Berebut Wakili Kudus, Lima Kecamatan Bersaing

  • Bagikan
Para ibu lansia di Desa Jepang saat menawarkan kekreativitasannya
KREATIF: Para ibu lansia di Desa Jepang saat menawarkan kekreativitasannya di depan Tim Penilai Rabu (23/10). (UMAR HANAFI/LINGKAR JATENG)

Lomba Bina Keluarga Lansia

KUDUS – Untuk memperebutkan juara Lomba Bina Keluarga Lansia (BKL), 5 kecamatan di Kabupaten Kudus bersaing. Juara perlombaan ini, nantinya mewakili Kabupaten Kudus di tingkat Provinsi.

Salah satu juri Ibu Prayitno mengungkapkan penilaian lomba ini dimulai dari hari Kamis (17/10) hingga Rabu (23/10).  “Kali ini, kami menilai BKL Tulip Desa Jepang yang mewakili Kecamatan Mejobo,” bebernya saat ditemui Rabu (23/10).

Prayitno mengungkapkan, selain dirinya ada tujuh juri lainnya yang menilai perlombaan ini. Empat dari Dinas Sosial dan tiga dari penggerak PKK Kabupaten Kudus. Masing-masing juri menilai sesuai bidangnya.

Untuk penilaian ini, timnya melihat dari berbagai aspek BKL. Mulai dari kemampuan berkomunikasi dari setiap kader BKL, penguasaan materi, inovasi yang telah dilakukan hingga kerapian keadministrasian.

“Ada empat aspek penilaian. Nanti keempat aspek ini nilainya kami kumulatifkan. BKL paling banyak dialah yang menang dan berhak mewakili Kabupaten Kudus di tingkat Provinsi,” bebernya

Dengan adanya BKL ini, ia berharap para lansia semakin produktif dan dapat menjadi wadah pemberdayaan para lansia. Sehingga mereka mempunyai kesibukan yang bermanfaat.

Sementara itu, Ketua BKL Tulip Eni Mulyani berharap BKL binaannya menjadi juara dalam perlombaan ini. Karena ia menilai para lansia hasil didikannya ini masih dapat bermanfaat dan dapat menghasilkan profit.

Para binaannya ini mampu menghasilkan berbagai kerajinan dari anyaman bambu. Mulai dari besek, keranjang buah-buahan, caping hingga kipas dari anyaman bambu. Saat ini hasil kerajinan tersebut sudah dipasarkan ke berbagai gerai. Kedepannya ia berencana memasarkan secara online.

“Kami berterima kasih kepada Camat Mejobo yang selama ini mendukung. Sehingga parapara ibu-ibu ini dapat membuat kerajinan anyaman dari bambu. Dimana bisa menggantikan wadah dari plastik yang tak ramah lingkungan,” pungkasnya.(cr3/lut)

  • Bagikan