Istambul: Surga Tersembunyi di Kota Wali

hutan mangrove di area Pantai Istambul
GAGAH: Keindahan hutan mangrove di area Pantai Istambul yang menyegarkan mata. (AJI YOGA/ JOGLO JATENG)

DEMAK – Saat mendengar kata “Demak”. kebanyakan orang barangkali akan terngiang dengan wisata religinya yang ramai kunjungan dari berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara. Makam Sunan Kalijaga, Makam Raden Fatah, dan Masjid Agung Demak adalah ikon populer. Namun, di luar itu, ternyata Kabupaten Demak menyimpan potensi wisata alam yang luar biasa.

Bagai surga yang tersembunyi, Demak memiliki Wisata Hutan Mangrove dan Pantai Istambul (Pantai Glagah Wangi). Kata Istambul merupakan singkatan dari Istana Tambak Bulusan. Destinasi wisata ini terletak di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak.

Pada tahun-tahun ini, hutan mangrove dan Pantai Istambul menjadi primadona bagi para wisatawan untuk mengisi liburan.

Debur ombak tenang menyambut wisatawan yang datang ke Pantai Glagah Wangi Istambul, hamparan pasir coklat di sepanjang pantai sebagai arena bermain asyik, ditambah hutan mangrove yang bersisian dengan pantai. Ketiganya adalah perpaduan magis!

Uniknya, sebelum wisatawan sampai ke pantai, mereka harus menyeberang Sungai Jragung terlebih dahulu dengan perahu. Perjalanan itu memakan kurang-lebih 300 meter dengan estimasi waktu 4 menit.

Setelah itu, pengunjung bisa menikmati trek mangrove. Dari 32 jenis tanaman mangrove yang tumbuh di tempat tersebut, ada 31 jenis yang sudah teridentifikasi.  Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk yang terjangkau, yaitu Rp15.000/orang, untuk menikmati semua keindahan di sana.

Humas Bumdes Desa Tambakbulusan Zamroni mengatakan, Wisata Pantai Glagah Wangi Istambul sudah dibuka sejak 10 tahun lalu. Namun, tempat ini mulai serius dikembangkan sejak dua tahun lalu dengan menambah fasilitas-fasilitas yang memadai dan tentunya merawat mangrove sebagai salah satu nilai tawar. Istambul dinobatkan sebagai Destinasi Baru Terpopuler pada Anugerah Pesona Indonesia (API) ke-5 tahun 2020.

“Semua berawal dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sejak itulah pihak desa serius menggarap destinasi wisata ini. Meski masih dikelola pihak desa, kami juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata (Dinparta) Kabupaten Demak,” tuturnya, kemarin.

Popularitas Istambul tak bisa disepelekan. Dalam seminggu, menurut Zamroni, pengunjungnya bahkan bisa mencapai 5.000 orang. Pada tahun baru 2020 lalu, antrean kendaraan bahkan merayap hingga jalur Pantura.

“Selain itu, kehadiran wisata ini juga amat berdampak bagi ekonomi masyarakat. Mulai dari perahu yang disewakan, buah mangrove yang bisa diolah UMKM, dan sebagainya,” lanjutnya.

Kini, Istambul betul-betul menjadi tumpuan bagi masyarakat sekitar. Menurut Zamroni, pengelola akan terus mengupayakan kemajuan wisata tersebut. Istambul adalah keindahan tanpa batas. Semua orang berhak menikmatinya. (aji/abu)