Figur  

Temukan Jiwa Seni di Pondok Pesantren

Abdurrahman saat membuat kaligrafi
FOKUS: Abdurrahman saat membuat kaligrafi di rumahnya, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Berada di pondok pesantren yang ketat dan tertutup tidak menghalangi seseorang untuk berkreasi. Adalah Abdurrahman, santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah Surabaya ini justru bisa mengasah jiwa seninya tatkala belajar di pondok.

Abdurrahman mengaku sudah gemar melukis sejak kecil. Namun, bakatnya ini justru diasah ketika di pondok. Hingga kemudian lebih terarah ke seni kaligrafi.

“Emang suka melukis sejak dulu, gambar-gambar hewan gitu. Ketika di pondok ada kaligrafi kok kepincut,” ungkapnya sambil terkekeh, belum lama ini.

Santri putra kelahiran Batang ini bercerita, pondoknya memiliki ekstrakurikuler kaligrafi setiap hari Kamis dan Sabtu. Fasilitasi ruang untuk melukis juga disediakan.

“Ikut pelatihan di pondok setiap Kamis dan Sabtu, yang ngelatih juga ustadz sendiri,” jelasnya.

Alasan Abdurrahman menekuni seni kaligrafi memang karena ia suka. Di sisi lain, seni ini memiliki kelebihan bernilai pahala.

“Yang jelas nilai pahalanya. Kalau kaligrafi kan nulis satu ayat dapat pahala. Tapi motivasi sebenarnya karena suka,” paparnya.

Saat ini, ia sudah menekuni seni kaligrafi sebagai profesi. Padahal, ia mengaku bukan seniman kaligrafi terbaik yang ada di pondoknya.

“Saya menang semangat menang minat. Kalau yang lain sudah tidak menekuni kaligrafi mungkin karena banyak pilihan lainnya,” papar laki-laki yang belum lama menikah ini.

Selain melukis di kanvas, ia juga melukis kaligrafi untuk kubah masjid. Ia pernah pendapat tawaran melukis untuk masih di Banten, Mandalika, hingga Papua.

“Setelah keluar pondok malah dapat kesempatan melukis di kubah, ” ungkapnya.

Ia mengaku akan terus menggeluti profesi seni lukis kaligrafi. Ia bersyukur hobinya bisa menghidupi keluarga. (cr1/ern)