Pati  

Kolam Tambat Kapal Terancam Sedimentasi

PROYEK: Bagian lantai tambat kapal di kawasan Pulau Seprapat hingga kini masih dalam tahap penyelesaian pembangunan, Selasa (26/10). (ACHWAN A./JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Megaproyek tambat kapal di Pulau Seprapat Juwana, Kabupaten  Pati dinilai belum memikirkan satu aspek penting. Yakni ancaman pendangkalan (sedimentasi) pada bagian kolam parkir kapalnya. Pendangkalan permukaan tanah diakibatkan penumpukan material lumpur yang berasal dari kawasan hulu dan tengah sungai.

Koordinator Kelompok Nelayan Silugonggo Munandirin mengatakan, problem sedimentasi Sungai Juwana dari tahun ke tahun semakin parah. Ia menyaksikan sendiri bagaimana proses pendangkalan amat cepat terjadi meskipun pengerukan menggunakan alat berat telah dilakukan.

“Kalau tidak salah tahun 2014, seorang pengusaha besar melakukan pengerukan di salah satu bagian pesisir yang ia gunakan untuk menambat kapalnya. Namun tak butuh lama, tidak ada setahun bagian yang dikeruk sudah tak bisa digunakan,” terangnya saat dimintai keterangan, Selasa (26/10).

Ia menilai, tambat kapal yang dibangun pemerintah daerah dengan total anggaran senilai Rp 70 milyar lebih terancam tak akan berfungsi baik dalam waktu yang lama. Sebelum penyebab utama sedimentasi bisa diurai secara efektif.

“Pendangkalan ini sebenarnya terjadi di kawasan hulu sungai di pegunungan Kendeng dan Muria, yakni maraknya alih fungsi hutan. Hutan yang menjadi kawasan pertanian, aktivitas penambangan dan gundulnya hutan menyebabkan jutaan kubik lumpur terbawa arus sungai,” imbuhnya.

Selain itu, ia menyebutkan populasi enceng gondok yang tak terkendali di kawasan tengah aliran sungai di daerah Sukolilo dan sekitarnya juga turut menyebabkan pengendapan lumpur dalam intensitas besar.

Pegiat Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) Supriyono menyatakan hal senada. Pria asal Desa Gajahmati ini meyakini upaya normalisasi sungai harus diimplementasikan secara menyeluruh dalam semua aspek. Bukan sekedar aspek teknis melalui pengerukan atau pembangunan waduk penyangga.

“Sedimentasi bukan tak hanya menyebabkan banjir saja yang merendam ribuan hektare wilayah pertanian produktif. Namun juga menyempitnya parkir kapal di kawasan hilir sungai. Dalam situasi ini nelayan kecil yang kena imbasnya,” jelasnya.

Ia menilai sedimentasi hanya bisa diatasi secara efektif dengan memperhatikan aspek sosial yang melingkupi Sungai Juwana. Hal tersebut dilakukan dengan menghentikan alih fungsi kawasan hutan di hulu sungai dan keterlibatan masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembuangan sampah ke sungai.

“Percuma dikeruk setiap tahun, jika penyebab pendangkalan tidak diatasi. Hanya buang-buang anggaran,” tandasnya.

Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pati, Darno, hingga berita ini diturunkan belum memberikan respon terkait permasalahan tersebut. (ahw/gih)