PATI, Joglo Jateng – Kasus perkawinan anak di Kabupaten Pati tergolong cukup tinggi. Pada 2025, kasus perkawinan dini tercatat ada 278 kasus. Sedangkan tahun ini, hingga data April sudah ada 78 kasus. Kasus perkawinan anak ini pun menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati.
Upaya pencegahan pun dilakukan. Pencegahan ini melalui kegiatan Diseminasi Pencegahan Perkawinan Anak bertema “Anak Cerdas, Masa Depan Cerah, Tunda Perkawinan, Utamakan Pendidikan” yang digelar Bagian Kesra Setda Kabupaten Pati bersama TP PKK Kabupaten Pati di Aula Kantor Kecamatan Winong, Senin (29/6/2026).
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menegaskan, perkawinan dini merupakan tantangan besar yang harus dihadapi bersama. Terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Karena itu, pemerintah mendorong orang tua untuk lebih aktif mendampingi, mengawasi, serta membangun komunikasi yang baik dengan anak sejak dini.
“Jangan hanya menjadi orang tua, tetapi jadilah sahabat bagi anak. Kenali pergaulannya, awasi aktivitas digitalnya, dan bangun komunikasi yang terbuka agar anak tidak salah mengambil keputusan yang akan memengaruhi masa depannya,” ujarnya.
Selain pengawasan keluarga, Chandra menilai pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan generasi muda. Menurutnya, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula peluang anak menghadapi persaingan dunia kerja pada masa mendatang.
“Kalau merasa kesulitan mendampingi anak, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog. Pemerintah juga akan terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan melalui APBD setelah program perbaikan infrastruktur selesai pada 2027,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Ketua TP PKK Pati, Dwi Risma Ardhi Chandra menyampaikan, perkawinan usia anak bukan sekadar persoalan keluarga. Melainkan isu sosial yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat anak.
“Orang tua, guru, tokoh agama, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama agar anak-anak kita tumbuh sehat, berprestasi, dan mampu meraih cita-citanya tanpa harus terjebak dalam perkawinan dini,” tuturnya.
Melalui kegiatan yang diikuti pengurus TP PKK desa se-Kecamatan Winong beserta kelompok kerjanya tersebut, peserta juga memperoleh pembekalan dari psikolog RSUD RAA Soewondo, Deni Herbyanti, mengenai pola asuh, komunikasi efektif dalam keluarga, serta langkah-langkah pendampingan anak di era digital. (lut/fat/rds)










