Kudus  

Pelatihan Penanganan Stunting di Kudus Baru Mencapai 43 Persen

Kabid Kesehatan Masyarakat (DKK) Kudus, Wahyudi
Kabid Kesehatan Masyarakat (DKK) Kudus, Wahyudi. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Pelatihan pemantauan pertumbuhan stunting di Kabupaten Kudus terus digencarkan. Meski demikian, dari total target 23 lokasi khusus (lokus) desa stunting, baru terlaksana 10 desa atau 43 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Wahyudi menerangkan, pelaksanaan pelatihan pemantauan pertumbuhan stunting terkendala oleh keterbatasan waktu. Sebab, beberapa bulan terakhir pihaknya disibukkan dengan kegiatan lain.

“Pelatihan pemantauan pertumbuhan bersama kader, totalnya ada 23 lokus desa stunting. 10 desa di antaranya sudah terlaksana kemarin. 13 desa belum terlaksana karena waktunya itu yang tidak mencukupi. Karena kita juga ada kegiatan banyak kemarin,” ujarnya.

Pihaknya menyebutkan, rencana awal lokus desa stunting hanya berjumlah 10 desa. Akan tetapi, pada pertengahan pelaksanaan bertambah menjadi 23 desa. Hal tersebut dikarenakan penambahan beberapa aspek dalam penilaian stunting.

“Penambahan desa itu karena ada kegiatan konvergensi stunting. Jadi semua harus terhubung. Lokus itu bukan lagi semata-mata daerah ini kasus stuntingnya tinggi, itu tidak. Tapi ada kaitannya juga dengan dinas-dinas terkait. Seperti ketahanan pangan, pertanian, PKPLH, Disdikpora, kemudian kita olah datanya jadilah 23 itu tadi,” kata Wahyudi.

Pelatihan penanganan stunting meliputi beberapa aspek. Mulai dari pemantauan pertumbuhan, makanan bayi, hingga tata laksana gizi.

“Pelatihan di desa lokus sendiri meliputi orientasi pemantauan pertumbuhan dam orientasi pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Kemarin kita juga mengajak guru, TK, dan PAUD untuk kegiatan pencegahan stunting. Kita juga ada pelatihan tata laksana gizi buruk bersama dokter, bidan, serta ahli gizi dalam rangka pencegahan stunting,” pungkasnya. (abd/fat)