PATI, Joglo Jateng – Fasilitas ruang baca masyarakat perdesaan di Kabupaten Pati dirasa masih rendah. Dari 406 desa, yang baru memiliki perpustakaan desa (Perpusdes) hanya sekitar 11 persen atau 48 desa. Hal tersebut berkaitan dengan kesadaran pihak pemerintahan desa yang menganggap literasi kurang bermanfaat
Kelapa Bidang (Kabid) Perpustakaan Priyono Arief Fandhilah Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati menyampaikan, pihaknya akan memberikan sosialisasi dan pembinaan kepada desa untuk mengelola perpustakaan di tingkat desa. Hal itu sebagai bentuk upaya pengembangan minat literasi di wilayah tersebut.
“Saat ini kami juga melakukan progam silang layanan, yakni melakukan peminjaman buku beserta pengelolanya ke berbagai desa. Program ini bertujuan untuk stimulus atau merangsang agar mereka membuat perpustakaan sendiri,” ujarnya.
Arief menambahkan, selain bisa menumbuhkan minat baca masyarakat di tingkat desa, adanya perpusdes juga membuat indeks desa meningkat. “Perpusdes hanya ada di desa-desa yang mempunyai SDM yang baik. Kebanyakan dikelola oleh anak-anak muda, seperti karang taruna,” jelasnya.
Selain itu, yang menjadi kendala saat ini terkait anggaran. Sebab sekarang APBD dikhususkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Sehingga selama 2 tahun terakhir tidak ada anggaran bagi hibah buku.
“Harapan kami, semua pemerintahan desa agar membuat perpustakaan sendiri dan sebisa mungkin akan kita bantu. Sebagai acuan seperti Desa Raci, Bakaran Wetan, Pangkalan yang sudah memiliki perpustakaan sendiri,” tutupnya. (cr7/fat)










