Demak  

Desa Sentra Dupa Terkikis Industri Modern

membuat dupa ukuran besar
PROSES: Kundori sedang membuat dupa ukuran besar, di tempat usahanya di Mranggen, Demak, Selasa (1/2/22). (LU'LUIL MAKNUN /JOGLO JATENG)

PRODUKSI pembuatan dupa bakar di Desa Waru Rt.04 Rw.06, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak semakin lama semakin sedikit. Meski tiap tahunnya penganut agama Kong Hu Chu dan Hindu selalu menggelar beribadatan besar, namun nasib para pembuat Hio Swa tergeser oleh industri dupa yang lebih modern.

Hal itu terbukti dimana Desa Waru yang sebelumnya memiliki beberapa rumah produksi dupa, kini sudah gulung tikar dan tinggal satu rumah produksi yaitu milik Kundori. Rumah produksi miliknya sudah berusia lebih dari 30 tahun. Karena ia meneruskan bisnis ini dari orang tuanya.

“Sudah 30 tahunan seperti ini, dulu itu banyak rumah produksi, tapi sekarang tinggal saya dan teman-teman ini. Yang lain sudah hilang,” ungkapnya, Selasa (1/2/22).

Rumah Produksi Hio Swa milik Kundori masih menggunakan cara tradisional untuk membuat dupa bakar. Di tengah eksistensi pabrik dupa modern, rumah produksi dupa miliknya ini masih bertahan dengan dupa hasil sentuhan tangan.

“Kita kalau kualitas berani bertarung dengan pabrik, tapi kalau bentuk kita kalah, karena kalau pabrik itu pakainya mesin jadi bentuknya sempurna,” paparnya.

Kundori mengatakan, wangi dupa akan lebih menyengat hidung saat dupa mulai dibakar. Harum aroma bunga cendana adalah jenis unggulan dupa Mranggen. Namun tidak jarang para pembelinya meminta dupa yang tak diberi pewangi atau tawar.

Menurutnya, bahan dasar bubuk kayu jati menjadi kunci dupa menyala dalam jangka yang lama. Serbuk kayu ini dijadikan adonan lembek yang berasal dari tepung lengket dan air. Kemudian dililitkannya pada bambu panjang, adonan serbuk jati yang telah menempel sempurna akan segera dijemur hingga kering merata.

Dupa yang telah dilumuri serbuk kayu jati akan dicelupkan ke dalam pewarna merah. Pengecatan juga menjadi penting karena aroma harum berasal dari larutan cat. Hingga dupa kemudian dikeringkan mengandalkan sinar matahari. Jika sedang penghujan, pengeringan dupa dapat berlangsung selama 3 hari lamanya.

“Satu hari biasanya menghabiskan tiga ember besar bubuk kayu jati, kalau dikira-kira mungkin 30 Kg,” ungkapnya.

Setiap harinya, rumah produksi dupa milik Kundori memproduksi 1000 sampai 2000 biji Hio Swa. Saat ini produk miliknya masih diedarkan di area Lokal yaitu Semarang saja dan untuk luar kota Kundori hanya supply bahan.

“Rata-ratanya 1500 per hari biasanya, kalau Imlek tahun ini ada peningkatan yang lumayan dibandingkan tahun lalu, tapi terkendala cuaca untuk proses penjemuran,” ujarnya.

Dupa kecil aroma isi 50 dijual Rp 25 ribu, sedangkan dupa batang yang besar atau Tiong isi 3 dijual Rp 30 ribu. Masyarkat Mranggen mengklaim, dupa tradisional milik mereka lebih murah jika dibandingkan dengan dupa impor. (cr3/gih)