DEMAK, Joglo Jateng – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dinilai membawa dampak berantai terhadap dunia usaha, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain meningkatkan biaya operasional, kenaikan harga BBM juga berpotensi menekan daya beli masyarakat akibat naiknya harga barang dan jasa.
Ketua Himpunan Pengusaha KAHMI Kabupaten Demak (Hipka), Sodiq, mengatakan pelaku usaha menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak kenaikan harga Pertamax. Sebab, banyak usaha skala kecil maupun industri yang masih mengandalkan kendaraan berbahan bakar nonsubsidi untuk distribusi maupun kegiatan operasional sehari-hari.
Menurutnya, kenaikan biaya bahan bakar otomatis meningkatkan pengeluaran perusahaan, mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi produk hingga aktivitas pemasaran. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus melakukan berbagai penyesuaian agar bisnis tetap berjalan.
“Pelaku UMKM dituntut mencari strategi baru supaya biaya produksi yang meningkat tidak langsung dibebankan kepada konsumen. Mereka harus menjaga harga produk tetap kompetitif di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.
Ia menilai, para pengusaha kini berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi biaya operasional meningkat, namun di sisi lain mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga produk karena khawatir kehilangan pelanggan.
“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, daya beli masyarakat bisa turun. Tetapi jika harga tidak disesuaikan, margin keuntungan pelaku usaha akan semakin menipis,” kata Sodiq.
Sodiq menjelaskan, sektor logistik dan transportasi menjadi bidang yang paling terdampak akibat kenaikan harga Pertamax. Perusahaan jasa pengiriman maupun pelaku usaha yang mengandalkan distribusi barang menggunakan kendaraan operasional kini menghadapi beban biaya yang lebih besar.
Akibatnya, tidak sedikit pelaku usaha yang mempertimbangkan penyesuaian tarif pengiriman untuk menutup kenaikan biaya operasional tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka harga berbagai kebutuhan masyarakat berpotensi ikut meningkat.
“Kenaikan biaya transportasi pasti akan berpengaruh pada harga barang di pasaran karena ongkos distribusi menjadi lebih mahal. Efeknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen,” jelasnya.
Ia menilai efek domino dari kenaikan BBM tidak hanya dirasakan dunia usaha, tetapi juga masyarakat secara luas. Ketika harga barang dan jasa mengalami kenaikan, kemampuan masyarakat untuk berbelanja diperkirakan menurun.
“Ketika daya beli melemah, perputaran ekonomi juga ikut melambat. Ini yang perlu diantisipasi bersama agar pelaku usaha, terutama UMKM, tidak semakin terbebani,” tambahnya.
Karena itu, Sodiq berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan memberikan dukungan bagi pelaku usaha kecil agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya operasional.
Menurutnya, UMKM merupakan salah satu penopang utama perekonomian daerah yang menyerap banyak tenaga kerja. Oleh sebab itu, keberlangsungan usaha mereka perlu mendapat perhatian serius agar dampak kenaikan harga BBM tidak semakin menekan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (adm/rds)










