Budaya  

Tradisi Rewondo, Ungkapan Syukur Masyarakat atas Kunjungan Wisatawan

BERJAJAR: Ketua RW 03, Dukuh Talun Kacang mengarak buah-buahan dari Masjid ke Goa Kreo dalam tradisi rewondo, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

GOA Kreo merupakan satu di antara objek wisata yang cukup masyhur di Kota Semarang. Banyak hal menarik dari objek wisata yang terkenal dengan banyaknya sekawanan kera ini. Salah satunya komitmen masyarakat sekitar untuk melestarikan budaya. Banyak tradisi yang masih dilestarikan masyarakat. Salah satunya tradisi rewondo. 

Tetua Dukuh Talun sekaligus pegawai di Goa Kreo, Danu Kasno menjelaskan, rewondo adalah tradisi arak-arakan sesaji berbagai macam makanan. Tradisi ini dilakukan pada hari ketiga dan ketujuh Hari Raya Idul Fitri. Sebagai wujud syukur karena wilayah Goa Kreo banyak dikunjungi oleh wisatawan. Baik mancanegara dan domestik.

“Sejak 1999 sampai sekarang masih dilakukan. Hari ketiga khusus warga sini, hari ketujuh dapat anggaran dari pemerintah dan dibuka untuk umum cuma pelakunya tetap diutamakan warga sekitar,” ujarnya, belum lama ini.

IKONIK: Salah satu patung monyet yang berada di Goa Kreo.

Rewondo pada hari ketiga lebaran, digelar dengan mengarak nasi bungkus dari Masjid Al-Mabrur menuju puncak bukit Goa Kreo. Pada kegiatan ini, dinyanyikan pula kidung Sunan Kalijogo. Yakni Rumekso Ing Wengi.

Sementara pada hari ketujuh lebaran, tradisi rewondo dilakukan dengan arak-arakan dari Masjid Al-Mabrur menuju tempat wisata Goa Kreo. Barisan paling depan bernama cucuk lampah manggolo yudo. Di belakangnya, berbaris pembawa spanduk bertuliskan sesaji rewondo. Beriringan ke belakang, terdapat pembawa manggar, bagus ayu, pembawa kayu jati (rombongan Sunan Kalijaga), dan tumpengan. 

Jenis tumpeng yang dibawa pun bermacam-macam. Terdapat tumpeng nasi kuning, kupat lepet, buah, palawija, dan nasi bungkus.

“Nasi bungkus yang dirangkai biasanya 600-700 tergantung besar/kecilnya, 300-400 sisanya dibawa di keranjang. Nanti saat rebutan gunungan, tidak ada yang kebagian baru ambil di keranjang,” ujarnya.

Tak hanya rewondo, masyarakat sekitar Goa Kreo juga masih menjalankan dua tradisi lain. Yakni barikan dan apitan.

Tradisi barikan, imbuh Danu, diadakan saat malam 1 dan 10 Suro. Kegiatan pada malam 1 Suro bertujuan untuk menolak bala di empat penjuru mata angin.

“Barikan acaranya ada beberapa jenis, salah satunya nyangkrik pas malam suro. Diberi tolak bala, dikubur di timur, barat, selatan, utara, dan satunya di tengah. Jenisnya kelapa muda, dikasih kembang sepasar, telur, dan duri-duri (gumarung),” ucapnya.

Adapun pada 10 Suro, dilakukan sedekah, tahlilan, dan makan bersama di aula masjid. Setelah itu, dibagikan bubur suro (bubur putih dengan irisan daging) bagi warga yang datang.  

Sedangkan, tradisi apitan dilaksanakan di antara Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dinamakan apitan, karena diapit dua hari besar tersebut. Sama seperti Barikan tanggal 10 Suro, tradisi apitan dilakukan dengan syukuran di aula masjid. Bedanya, tidak ada pembagian bubur suro. (cr2/ern)