Angka Kasus Stunting di Pati Alami Penurunan

Kepala Seksi Kesehatan dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Kasriatun. (LUTHFI MAJID / JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati, kasus stunting pada akhir 2021 sejumlah 5,76 persen. Angka tersebut tergolong rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya dengan jumlah 6,10 persen.

Kepala DKK Pati Aviani Tritanti Venusia melalui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan dan Gizi Kasriatun menyebutkan, dari 68.160 bayi, tercatat ada 3.925 balita mengalami stunting. Angka itu berasal dari penimbangan serentak pada Agustus 2021 lalu.

Meski mengalami penurunan, pihaknya akan terus melakukan pencegahan terkait kasus tersebut. Dari hasil pemetaan analisis stunting yang dilakukan pihaknya, 80 persen balita yang mengalami stunting penyebabnya dari pola asuh.

“Jadi, penyediaan menu untuk balita harus benar-benar memenuhi gizi seimbang sesuai tahapan umurnya. Supaya bisa mencegah stunting,” ucapnya.

Kasriatun menambahkan, mulai bayi usia enam bulan harus dikenalkan makanan pendamping ASI. Jadi makanan harus sesuai. Ia juga menambahkan, mengatasi hal itu, dari ahli gizi  puskesmas maupun bidan desa sebernarnya sudah berupaya. Tinggal ibu balita untuk lebih telaten dalam pemenuhan gizi balitanya.

“Perlu adanya kesadaran yang tinggi dari ibu balita untuk melakukan pencegahan stunting. Selain itu, pelayanan posyandu harus dioptimalkan, untuk menjalankan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita,” ungkapnya.

DKK Pati juga sering melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk menekan penurunan kasus stunting. Selain itu, pihaknya mempunyai tim konvergensi stunting Kabupaten. Tim tersebut melibatkan berbagai OPD.

“Banyak yang berperan untuk pencegahan stunting, terutama kader posyandu. Mereka harus kompeten dalam memberikan pelayanan terkait konseling di meja IV Posyandu. Yakni untuk meningkatkan pola asuh Balita, kemudian  penimbangan serta pengukuran Balita di meja 2 Posyandu. Sebab hasil itu sebagai acuan untuk menentukan status gizi Balita,” jelasnya.

Dirinya berharap, agar di bulan timbang Februari 2022 ini 100 persen balita dapat diukur, dan ditentukan status gizinya secara benar. Kemudian data tersebut untuk dipersiapkan  di desa untuk dikoordinasikan terkait upaya yang telah dilakukan. (cr7/fat)