SEMARANG, Joglo Jateng – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah (Jateng), Muhdi sangat prihatin angka risiko putus sekolah anak di tingkat sekolah dasar yang mencapai 10 kali lipat selama masa pandemi Covid-19. Karena itu, dirinya mendorong pemangku kebijakan agar peraturan yang dibuat tidak menciptakan loss learning.
“Lebih beresiko sekarang adalah anak putus SD ada sepuluh kali lipat dari sebelumnya,” katanya saat dihubungi wartawan, Rabu (9/2/).
Ia menilai pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan secara berkepanjangan dapat menyebabkan loss learning hingga putus sekolah. “Jika berkepanjangan ada ancaman serius. Sekarang kan, kesenjangan anak dari keluarga mampu dan tidak itu sudah selisih 10 persen,” ucapnya.
Dijelaskannya, orang mampu itu anaknya sudah tercukupi fasilitas pembelajaran selama PJJ, namun berbeda bagi anak yang tidak mampu. Di samping itu, pendampingan terhadap keduanya tentu berbeda.
“Tidak mampu fasilitas terbatas, kadang malah ada yang rebutan. Kedua, kalau pendampingan belum tentu ada kapasitas cukup atau malah tidak didampingi. Saya melihat itu,” jelasnya.
Untuk mencegah hal itu berkepanjangan, Muhdi meminta pembelajaran secara langsung atau PTM yang dialihkan PJJ segera dievaluasi usai diterapkan sepekan. Hal itu agar dua pekan berikutnya segera disampaikan keputusan akan diperpanjang atau kembali PTM terbatas.
“Kalau saat ini sudah diputuskan (PJJ dua minggu) begitu ya segera dievaluasi saat minggu depan. Agar bisa dilakukan kembali (PTM terbatas). Tapi minimal 50 persen dulu jangan langsung 100 persen. Pemerintah disini harus bisa adaptif,” tegasnya.
Di sisi lain, pihakya juga meminta kepada dinas yang berwenang agar mengambil kebijakan mengacu terhadap capaian vaksinasi anak dan orangtua siswa. Misalnya diizinkannya PTM jika siswa sudah divaksin dan dapat restu dari wali murid.
“Kasus Kota Semarang sangat kecil. Bahkan nayaris tidak ada klaster sekolah. Kemudian maaf, kalaupun itu (kasus) ada, bukan sumber dari sekolah. Tapi itu dari orang tua yang berpergian atau anak yang tertular di luar jam sekolah. Jadi seharusnya sudah clear dan tidak ada masalah,” ucapnya. (dik/gih)










