DP3AKB Siap Berikan Trauma Healing

Kepala DP3AKB Jateng, Retno Sudewi (ERNA DWI NUGRAINI /JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Retno Sudewi mengatakan dinasnya siap akan memberikan trauma healing bagi warga Desa Wadas. Menurutnya, perempuan dan anak adalah kelompok rentan mengalami trauma pasca kericuhan di desa tersebut, beberapa waktu lalu.

“Trauma healing bagi anak-anak dan perempuan, kita siap,” ujarnya saat dimintai keterangan, akhir pekan lalu.

Meski demikian, pihaknya akan memantau kondisi terbaru di lapangan. Yakni, apakah para warga sangat urgent untuk dilakukan trauma healing apa tidak. “Lihat dulu kondisi lapangan, memang tupoksi dari dinas kami untuk melakukan trauma healing. Sehingga, anak-anak dan perempuan tidak trauma. Intinya sejauh mana kondisi di lapangan,” ucapnya.

Dari situ, Retno menjanjikan akan melakukan pendampingan dalam waktu secepatnya di Desa Wadas. “Pastinya, kita akan melakukan secepatnya,”tuturnya.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memerintahkan kepada DP3AKB Jateng untuk memberikan perhatian serius di Wadas, pasca peristiwa kericuhan tersebut. Salah satunya memberikan trauma healing kepada anak-anak dan perempuan.

“Agar suasana bisa jadi harmoni, mereka bisa terbantu,” ujarnya.

Alasannya memerintahkan hal ini, karena ia sempat mendapatkan keluhan dari warga Desa Wadas yang menolak dan setuju atas proses penambangan itu saling mengejek atau dan menghina. Menurutnya, hal itu dirasakan semua orang, mulai dari orang tua hingga anak-anak yang sedang proses belajar di sekolah.

“Ternyata ada yang saling ejek, bahkan di sekolah. Ini tidak bagus,” ucapnya.

Dengan pemberian trauma healing, menurut Ganjar, itu menjadi salah satu cara bentuk kepedulian dari sisi kemanusiaan dan kenyamanan masyarakat. Ia juga meminta DP3AKB berkoordinasi dengan pihak lainnya agar bisa menyelesaikan apa yang terjadi di Wadas.

“Kita langsung sampaikan koordinasi dinas pendidikan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, ayo dong ngobrol. Mereka kalau perlu dengan KPAI atau dengan para ahli, kita bisa komunikasikan. Sehingga mereka bisa nyaman tidak saling sindir,”paparnya. (dik/gih)