UMKM  

Bisnis Kuker, dari Pre-Order hingga Ribuan Toples Terjual

Proses pembuatan roti kering yang dipelajari dari sang ibu. (ERNA SARI SUSANTI/ JOGLO JATENG)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Kue kering sering dicari saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Makanan tersebut disajikan untuk camilan saat lebaran bersama dengan yang lainnya. Hal tersebut menjadi sebuah peluang bisnis untuk Mega. Dengan memulai produksi belajar membuat kue kering dari ibunya.

Megatun Nasiyani memang ingin membuka usaha secara mandiri. Berhubung mendekati lebaran, dan setiap lebaran ibunya membuat kue kering, muncullah inisiatif belajar kue kering dengan ibunya. Yang kemudian ia kembangkan menjadi bisnis.

“Awalnya minder sama yang senior, udah bisnis kue kering duluan. Tapi ternyata bisa laku juga di pasaran. Sampai sekarang juga masih bisa jaga kualitas, alhamdulillah belum ada yang komen kurang mantep, atau tidak puas,” ungkapnya saat diwawancarai, Rabu (2/3).

Ia memulai bisnisnya sejak 2019 silam. Hal ini yang menjadi pendorongnya untuk terus maju. Karena pre-order pertamanya, ia dapat menjual 500an toples kue.

“Aku open pre-order mulai H-1 bulan sebelum lebaran. Langsung komplit, ada nastar, kastangel, putri salju, kue kacang, semprit, dan kue coklat,” ujar perempuan asal Purworejo tersebut.

Ia berbagi pengalaman dalam memulai bisnisnya untuk promosi produk. yakni dengan membuat foto produk yang menarik. Sehingga pelanggan tertarik untuk membeli. Serta memberikan harga yang pas.

“Pemasaran paling kencang lewat facebook dan reseller. Pinter-pinter bikin foto sama main harga saja. Pada awalnya saya punya tiga reseller, lainnya emang promosi sendiri. Bahkan pernah mengirim sampai Bekasi, Bandung, dan Tangerang,” ungkap perempuan berumur 23 tahun tersebut.

Kendati demikian, usahanya tak selalu berjalan mulus. Ia pernah mendapatkan complain dari pembelinya. Sebab kue kering yang dibawa reseller remuk dan rusak.

“Pernah dikomplain kue nya remuk, tapi aku jelasin itu karena resellernya kurang hati-hati saat pengiriman. Karena semua barang dari saya semua bagus kondisinya. Sehingga saya sarankan untuk order langsung. Sehingga bisa diganti kalau rusak. Jadi sebelum pembayaran dapat di cek dulu ada yang rusak atau enggak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pandemi Covid-19 yang terjadi mulai tahun 2020 menurutnya menjadi ladang rezeki. Sebab, penjualan kue nya meningkat banyak. bahkan mencapai 1000 toples.

“Pandemi malah ramai, penjualan di atas 1000 toples. Sampai dibantu ibu dan suamiku. Saya ngadonin, mereka tinggal nyetak aja,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, kini usahanya semakin berkembang. Saat ini ia telah mempunyai 10 reseller. Yang siap menjadi perantara dalam menjual kue buatannya.

“Alhamdulillah sekarang punya 10 reseller, dan sudah mulai aktif Open PO untuk kue kering. Berhubung awal Mei sudah lebaran,” katanya.

Dengan berjualan kue kering, saat ini ia juga telah menambah usahanya dengan membuka outlet roti bakar. Bahkan ia membeli sendiri gerobak nya dari hasil penjualan kue. Kedepannya ia berharap dapat memiliki toko kue sendiri. Dengan menjual berbagai macam pilihan kue buatannya. Seperti bolu, brownies, kue kering, dan kue ulang tahun. (ers/bid)