SEMARANG, Joglo Jateng – Menjelang Ramadan yang diperkirakan jatuh pada Sabtu (2/4) mendatang, mempengaruhi beberapa harga komoditas di beberapa pasar Jawa Tengah. Salah satunya harga daging ayam yang mulai mengalami kenaikan.
Seorang pedagang ayam di Pasar Sampangan, Kota Semarang, Indah (33) menyampaikan, hingga Sabtu (5/3) harga ayam mulai ada kenaikan meskipun sedikit. Tetapi, kenaikan ini secara konsisten dan terus menerus.
“Pas awal bulan (Maret), masih 30 ribu. Sekarang sudah 32 ribu. Jadi naiknya enggak terlalu tinggi. Cuma ya itu, terusan,” katanya, akhir pekan lalu.
Saat ditanya apakah ada pengaruh kenaikan ini, ia mengaku sampai sekarang belum mempengaruhi penjualannya. Namun ia tetap khawatir lantaran puncak kenaikan harga daging ayam sering terjadi saat tiga hari sebelum memasuki Ramadan.
“Sekarang belum terlalu berpengaruh. Nggak tau kalau nanti kedepanya. Cuma ya itu, naiknya terusan antara 1,000 sampai 1,500. Biasanya puncaknya Ramadan,” ungkapnya.
Senada, salah satu pedagang ayam di Pasar Kabupaten Kendal bernama Kuat (35) menuturkan, harga daging ayam potong di wilayahnya naik dari sebelumnya 33 ribu menjadi 34 ribu. Meskipun kenaikannya belum signifikan, ia menilai puncaknya saat mendekati Ramadan.
“Pastinya kurang tau. Tapi setahu saya ya karena menjelang puasa. Harapanya pemerintah bisa menstabilkan pas mendekati Ramadan nanti. Soalnya itu biasanya puncaknya,” imbuhnya.
Kuat menambahkan, harga daging ayam merah sendiri naik menjadi 55 ribu dari yang sebelumnya hanya 50 ribu. Sedangkan ayam kampung masih stabil. “Untuk ayam kampung diketahui masih stabil kisaran 65 ribu per ekor,”ucapnya.
Meski kenaikan-kenaikan di beberapa wilayah belum terlalu signifikan. Hal itu tidak mempengaruhi masyarakat yang ingin membeli daging ayam. Namun, sebagian dari mereka harus mengurangi jumlah pembelian dari biasanya.
“Ayam ada kenaikan, ini aja belinya agak dikit tak kurangi dari biasanya. Biasanya saya beli 3 kilo, tapi sekarang mahal, jadi sekarang belinya ya cuma 1,5 kilo,” tutur salah satu pembeli ayam potong di Pasar Kendal, Umi Yeti (45).
Terpisah, merespon adanya kenaikan di beberapa wilayah Jawa Tengah yang diprediksi puncaknya menjelang Ramadan itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa tengah, Arif Sambodo menuturkan, pihaknya telah menyiapkan antisipasi hal tersebut. Salah satunya, dengan melakukan pemantauan secara intensif.
“Pemantauan sudah dimulai, termasuk rapat-rapat dengan TPID (Tim Pengendali Inflasi Derah) untuk pemantauan menjelang puasa,” jelasnya.
Di samping itu, ia mengaku kenaikan yang terjadi pada sejumlah daerah masih stabil dan cenderung aman. Untuk itu, Arif mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik atau sampai melakukan panic buying (belanja berlebihan).
“Daging relatif stabil di Jawa Tengah. Kalau permintaannya tidak terlalu tinggi. Jadi imbauan kepada masyrakat tidak perlu belanja berlebih. Kalau mulai borong-booong sekarang terus numpuk, kalau nanti ada pantauan dari satgas (satuan tugas) pangan, kalau ada barang banyak bisa kena sanksi sebagai penimbun,” ucapnya. (dik/gih)










