Jepara  

Book Club Jepara Jadi Ruang Literasi bagi Ratusan Pencinta Buku

SEMANGAT: Komunitas Book Club Jepara saat melakukan baca buku dan diskusi bersama, Minggu (5/7/2026). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Berawal dari kegemaran membaca buku saat merantau, seorang perempuan asal Desa Ngasem, Kecamatan Batealit, berhasil membangun ruang literasi yang kini menjadi wadah bagi ratusan pencinta buku di Kabupaten Jepara.

Di usia 26 tahun, Titah Ulfiani Cholil bersama lima rekannya, Septiar Robert, Noval Fajar, Aryo Seto, Reza Agnes, dan Serli Putri, mendirikan komunitas buku bernama Book Club Jepara. Komunitas yang berdiri sejak 17 Agustus 2025 itu kini memiliki lebih dari 400 anggota dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, pekerja muda, hingga orang tua.

Titah Ulfiani mengatakan, ide mendirikan komunitas tersebut muncul setelah dirinya aktif mengikuti kegiatan book club selama merantau di Yogyakarta dan Jakarta. Saat kembali ke Jepara, ia ingin menghadirkan ruang serupa agar masyarakat yang memiliki minat membaca dapat saling terhubung.

“Awalnya ini hobi saya ketika merantau di Yogyakarta dan Jakarta. Di sana saya ikut dan aktif di dalam komunitas Book Club. Begitu saya kembali ke Jepara tahun lalu 2025, rasanya ingin menularkan kebiasaan saya di Jepara,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Keputusan membentuk komunitas itu sempat membuatnya ragu. Ia menilai budaya membaca di Jepara belum begitu kuat. Namun, dukungan dari lima sahabatnya membuat ia mantap mewujudkan gagasan tersebut.

Sejak berdiri, Book Club Jepara rutin menggelar kegiatan membaca bersama setiap akhir pekan. Lokasinya berpindah-pindah, mulai ruang terbuka hijau, taman kota, pantai, hingga berbagai ruang publik yang mudah diakses masyarakat.

Tak sekadar membaca buku, setiap pertemuan juga menjadi ruang berbagi pengetahuan, berdiskusi, sekaligus memperluas pertemanan melalui hobi yang sama.

Menurut Ulfiani, antusiasme pencinta buku terus meningkat. Anggota komunitas tidak hanya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, tetapi juga pekerja muda hingga bapak-bapak dan ibu-ibu.

“Dari awalnya sempat skeptis, kini sudah optimis dan lebih enjoy menjalankan misi sosial yang berorientasi mengangkat minat baca masyarakat. Ada juga bapak-bapak, ibu-ibu yang ikut komunitas kami. Jadi tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, banyak juga pekerja muda yang bergabung,” katanya.

Ke depan, komunitas tersebut berencana mewujudkan perpustakaan komunitas sebagai ruang baca bersama yang menyediakan berbagai jenis buku. Harapannya, fasilitas itu dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan budaya membaca dan memperkuat literasi masyarakat di Kabupaten Jepara. (oka/gih/rds)