Upaya Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

SUASANA: Pengunjung Malioboro menyiapkan payung karena cuaca yang tidak menentu, akhir pekan lalu. (DOKUMENTASI PRIBADI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini menjadi persoalan di setiap wilayah. Upaya penanggulangan serta pencegahan dampak negatif perubahan iklim, menjadi hal yang harus segera dilakukan.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, perubahan iklim adalah persoalan kompleks yang menyerang semua aspek kewilayahan. Sehingga dinilai penting untuk belajar bersama, tentang pengelolaan dan menyusun aksi bersama mitigasi perubahan iklim.

“Kita berharap pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis terkait mitigasi  perubahan iklim. Tapi yang paling penting, melakukan gerakan bersama,” kata Heroe saat membuka pelatihan nasional mitigasi perubahan iklim di Hotel Phoenix Yogyakarta, Senin (7/3).

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim yang dirasakan, di antaranya masa musim kemarau dan hujan yang tidak bisa diprediksi seperti dulu. Menurutnya secara umum kondisi tersebut dipengaruhi oleh tumbuhnya kawasan perkotaan, dan kepadatan manusia yang semakin meningkat.

Selain itu, kondisi tersebut menurutnya juga diiringi dengan berkurangnya kawasan hijau. Dan juga lepasnya penataan transportasi publik dan meningkatnya emisi gas buang,

“Setiap kota harus mempunyai peran dan kontribusi untuk menurunkan suhu bumi. Semua kota diharapkan memiliki aksi bersama untuk meningkatkan kontribusi masing- masing untuk menurunkan suhu bumi,” lanjutnya.

Pihaknya menegaskan sebagai anggota aktif UCLG ASPAC sejak tahun 2009, Pemerintah Kota Yogyakarta selalu berharap untuk dapat terlibat aktif dalam berbagai upaya. Yakni dalam pembangunan di segala bidang.

Termasuk mendukung upaya mencegah dampak negatif perubahan iklim. Misalnya, kegiatan rutin uji emisi gas buang kendaraan bermotor yang diadakan dinas terkait di Pemkot Yogyakarta.

“Selain ikut, kami juga berupaya  menambah ruang terbuka hijau publik di Kota Yogyakarta. Hingga melakukan gerakan menanam di wilayah,” pungkasnya. (fif/bid)