BANTUL, Joglo Jogja – Harga jual kedelai yang masih tinggi menjadi berkah bagi para petani di Kabupaten Bantul. Sehingga hasil panen saat ini, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai dalam negeri.
Rektor Universitas Gajah Mada (UGM), Panut Mulyono menjelaskan, saat ini kedelai yang di panen kualitasnya lebih bagus. Ia membandingkan dengan kedelai impor.
“Tadi saya bandingkan, produk disini pas dikupas dibanding dengan kedelai impor, produknya cantik, kuning-kuning dan lebih besar. Butirannya jauh lebih besar dibanding kedelai impor,” ucapnya saat diwawancarai belum lama ini.
Melihat kualitas hasil panen tersebut, ia mengatakan bahwa produk impor tidak selalu lebih baik. Buktinya, kedelai hasil petani dalam negeri dinilai lebih unggul.
“Harapannya kita tidak menganggap lagi bahwa produk impor itu selalu lebih baik dari produk dalam negeri. Ini nyatanya, produk kita jauh lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah sangat serius dalam pengembangan food estate. Salah satunya dengan pengembangan pertaian kedelai.
“Pemerintah menantang kepada akademisi, bisa panen berapa ton per hektare. Kalau bisa mendekati produktivitas lahan di Amerika dan lainnya, maka akan banyak investor yang mau masuk untuk menanam kedelai di Indonesia,” ucapnya.
Kenaikan harga kedelai saat ini, menurutnya harus sikapi serius untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sehingga, untuk mewujudkannya diperlukan kerjasama antar kelompok.
“Tentunya diperlukan kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, industri dan investor ya. Sampai bagaimana nanti kita memasarkan dan memanfaatkannya,” terangnya.
Hal ini juga menjadi sebuah peluang dalam negeri. Peluang untuk mensubstitusikan atau memproduksi kedelai sendiri.
“Mahalnya harga kedelai merupakan sebuah peluang bagi kita untuk memproduksi kedelai kita sendiri. Sebab banyak makanan yang bahan bakunya dari kedelai. Seperti tahu, tempe, kecap, dan oncom,” tegasnya. (ers/bid)










