KOTA, Joglo Jogja – Jelang bulan ramadan, pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menargetkan ibadah bisa dilakukan secara normal. Oleh karenanya, pihaknya mengajak masyarakat agar patuh dan disiplin protokol kesehatan. Tujuannya agar tak terjadi lonjakan kasus Covid-19 pada April mendatang.
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, penerapan protokol kesehatan maupun pengurangan mobilitas berada di tangan masyarakat. Sementara pihaknya hanya bisa mengatur melalui kebijakan pemerintah.
“Agar pada saat salat tarawih di bulan ramadan bisa dilaksanakan dengan baik. Makanya saya meminta kepada seluruh takmir dan seluruh warga, mari ciptakan protokol kesehatan yang baik di masjid-masjid. Agar ramadan nanti kasusnya betul-betul sangat landai,” ungkapnya belum lama ini.
Lebih jauh, pihaknya meyakini bahwa masyarakat, khususnya kaum muslim telah merindukan ibadah secara normal. Mengingat sudah lebih dari dua tahun, ibadah terkendala pandemi Covid-19 yang menyebabkan adanya pembatasan jama’ah.
Selain itu, ia berharap momentum Idul Fitri menjadi momen kemenangan. Ajang silaturahmi keluarga, setelah tertunda selama dua tahun pandemi Covid-19.
“Bisa menjalankan ibadah tarawih lebih baik, lebih khusuk dan lebih banyak yang bisa ikut serta. Kita juga berharap pada saat Idul Fitri, kita bisa mengendalikan covid dengan baik. Sehingga pelaksanaan salat ied bisa lebih baik,” lanjutnya.
Secara umum, ia mengatakan bahwa angka kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta terus melandai. Kondisi ini mulai terpantau sejak akhir Februari 2022. Dimana, angka kesembuhan pasien juga lebih tinggi dari pada angka kasus harian.
Berdasarkan data tersebut, Bed Occupancy Rate (BOD) Kota Yogyakarta dibawah 40 persen. Artinya ketersediaan tempat tidur di rumah sakit Covid-19 masih ideal. Kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah shelter isolasi terpusat di Kota Yogyakarta.
“Kasusnya turun dan angka kematian juga turun terus, karena memang tidak banyak akibat Omicron. Jogja kasusnya sudah turun terus sejak akhir Februari. Shelter banyak diisi oleh wisatawan, kemudian kalau rumah sakit juga masih sangat rendah di bawah 40 persen,” pungkasnya. (fif/bid)










