Oleh: Anik Handayani, S. Pd.
Guru Mapel IPAS SMKN 1 Karangawen Demak
PROGRAM pembelajaran dalam Pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) berfokus pada pengembangan dan pengimplementasian pembelajaran melalui praktik maupun teori. SMK merupakan pendidikan menengah yang memiliki visi dan misi untuk menyiapkan lulusan tingkat menengah yang berkualitas. SMK diharapkan dapat menciptakan generasi yang berjiwa bisnis, cerdik, siap bekerja, kompetitif, dan mempunyai prinsip hidup, mampu meningkatkan budaya lokal dan mampu bersaing dengan global.
Untuk mencetak lulusan SMK Negeri 1 Karangawen jurusan X TO (Teknik Otomotif) dan X TM (Teknik Mesin) pelajaran IPAS yang berkualitas, maka adanya persiapan hard skill dan soft skill cukup matang. SMK berbeda dengan SMA dimana lulusan SMK harus memiliki hard skill atau keterampilan yang menjadi salah satu kompetensi. Tidak hanya itu, soft skill berupa karakter yang baik juga harus dimiliki sebagai tenaga kerja yang terampil di dunia industri. Selain itu, siswa juga harus memiliki skill lainnya guna menunjang skill yang dimiliki.
Dari deskripsi aspek IPAS berdasarkan rumpun teknologi aspek IPAS untuk makhluk hidup dan lingkungannya, aspek ini meliputi keterkaitan antara makhluk hidup yang terdiri dari manusia, tumbuhan, dan hewan yang saling bergantung satu dengan yang lain dan terhadap lingkungannya baik berupa tanah, air, energi. Hubungan makhluk hidup dan lingkungannya dapat digambarkan sebagai individu – populasi – komunitas – ekosistem – biosfer.
Dari deskripsi aspek IPAS tersebut dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata salah satunya dengan budikdamber. Budikdamber sendiri adalah salah satu jenis kegiatan yang dapat mengasah hard skill dan soft skill siswa. Dalam budikdamber, dapat memanfaatkan lahan sempit yang ada di lingkungan sekolah. Untuk jenis tanaman yang dipilih pun bisa tanaman yang mudah dikonsumsi seperti kangkung. Untuk ikan juga dapat disesuaikan yang mudah untuk dipelihara seperti ikan lele.
Budikdamber merupakan teknik budidaya ikan ramah lingkungan yang memadukan antara budidaya ikan dan sayuran dengan menggunakan sarana ember sebagai wadah budidaya ikan serta memanfaatkan air sebagai media budidaya untuk tumbuh kembang tanaman sayur. Di sekolah, budikdamber ini dilakukan dengan berkelompok. Setiap kelompok nanti akan memanfaatkan ember volume 80 L, yang nantinya dapat menghasilkan ikan lele sebanyak 3-5 Kg per ember. Anggota kelompok saling berkolaborasi dan bertanggung jawab agar ikan dan sayuran yang ditanam tumbuh dengan baik dan maksimal serta menghasilkan panen yang melimpah.
Teknologi budidaya seperti budikdamber sangat cocok untuk diadopsi oleh siswa SMK, terutama untuk kelas X. Siswa dapat mengasah keterampilan tambahan setelah lulus sekolah nanti. Serta mendorong siswa untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan dimana di era seperti ini siswa dituntut untuk dapat mengembangkan potensi yang ada dalam diri dan harus mampu bersaing dalam dunia bisnis. Dengan lahan yang terbatas pun dapat digunakan sistem ini dapat dikembangkan secara profesional sangat cocok untuk anak milenial yang saat ini memiliki lahan sempit. Hasil dari tugas proyek budikdamber bisa diterapkan dilingkungan sekolah. Siswa juga dapat memasarkan hasil tugas proyeknya. Adapun tugasnya dapat dikirim dalam bentuk video pembuatan budikdamber dan laporan hasil pemasaran.
Dengan melaksanakan budidaya dalam ember memiliki manfaat selain nantinya siswa dapat mengkonsumsi hasil budidaya sayuran dan ikan yang segar dan lebih sehat, siswa juga dapat mengasah kemampuannya dalam bidang pertanian dan perikananan. Penerapan teknologi budidaya ikan dalam ember atau yang biasa disebut budikdamber menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain memenuhi kebutuhan akan protein hewani yang didapatkan dari ikan, teknik budidaya ini juga menghasilkan sayuran untuk dikonsumsi dan dipasarkan. (*)








