Soal Terbuka dalam Matematika Tingkatkan Pola Pikir Kritis dan Kreatif

Oleh:  Imron Ashadi, S.Pd., M.Pd.
Guru Matematika SMP Negeri 3 Demak 

SALAH satu kompetensi pembelajaran matematika untuk pendidikan tingkat dasar kelas VII-IX (SMP) yang diharapkan adalah peserta didik menunjukkan sikap logis, kritis, analitis, cermat dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. Adapun ruang lingkup materi yang harus dipelajari peserta didik adalah bilangan rasional, aljabar (pengenalan), geometri (termasuk transformasi), himpunan, statistik dan peluang dalam kurun waktu eman semester.

Hal di atas sejalan dengan tuntutan lulusan sekolah harus menguasai keterampilan abad 21, yaitu: berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration). Di samping itu juga senada dengan profil pelajar Pancasila, yaitu beriman, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Paradigma baru pendidikan saat ini lebih menekankan pada siswa sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Penggunaan soal terbuka dalam pembelajaran matematika telah banyak digunakan sebagai asesmen dalam penilaian hasil belajar. Hal ini dilakukan karena melalui pertanyaan terbuka siswa dapat mengeksplorasi kemampuan berpikir yang beragam melatih pola pikir kritis dan kreatif.

Peserta didik juga dapat memilih metode atau cara penyelesaian yang benar lebih dari satu cara dan jawaban yang berbeda, sehingga dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman menemukan, mengenali dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik.

Soal terbuka yang digunakan adalah masalah tidak rutin yang dikelompokan menjadi tiga tipe. Yakni, 1) proses terbuka, maksudnya adalah tipe soal yang mempunyai beragam cara penyelesaian yang benar. 2). Hasil akhir yang terbuka, maksudnya tipe soal yang diberikan mempunyai banyak jawaban benar. 3). Cara pengembangan lanjutan terbuka, yaitu ketika peserta didik telah selesai menyelesaikan masalah selanjutnya peserta didik dapat mengembangkan masalah baru dengan mengubah syarat atau kondisi pada soal yang telah diselesaikan.

Beberapa contoh soal terbuka yang dapat meningkatkan pola pikir kritis dan kreatif, pertama, x + y = 10, x dan y bilangan bulat positif. Tentukan nilai x dan y? Untuk menyelesaikan persoalan di atas peserta didik dapat mengambil alternatif pemecahan jika x=1 maka y= 9, jika x=2 maka y= 8, jika x=3 maka y= 7,  jika x=4 maka y= 6, jika x=5 maka y= 5. Soal ini bentuk aljabar sederhana yang memungkinan beberapa alternatif jawaban yang benar.

Kedua, diketahui luas suatu jaring-jaring balok adalah 484 meter pesegi. Bagaimana cara menentukan ukuran balok tersebut? Salah satu caranya dengan menguraikan rumus luas permukaan balok berdasarkan luas permukaan balok yang diketahui, yaitu menjadi berikut tinggi = (242- panjang x lebar) dibagi (panjang + lebar), dengan syarat   (panjang + lebar) tidak sama dengan nol dan (panjang x lebar ) kurang dari 242. Nilai panjang dan lebar berdasarkan yang ditentukan sendiri. Contoh: 1) Jika panjang  4 meter dan lebar 2 meter maka tinggi 39 m. 2) Jika panjang  10 meter dan lebar 9 meter maka tinggi 8 m. 3). Peserta didik dapat menentukan ukuran yang lain.

Ketiga, sebuah foto ditempatkan pada kertas karton berukuran 90 cm x 50 cm, pada posisi searah dengan kertas karton. Di sebelah kiri, sebelah kanan, dan sebelah atas foto terdapat sisi kertas karton yang lebarnya 5 cm. Jika kertas karton dan foto sebangun,  berapa lebar kertas karton di bagian bawah foto?  Dalam menyelesaikan soal terbuka tersebut peserta didik dapat memilih posisi kertas karton dalam keadaan landscape atau portrait. Setelah itu peserta didik baru menggunakan konsep kesebangunan bangun datar untuk mencari solusi penyelesaiannya sehingga diperoleh alternatif jawaban lebih dari satu tergantung posisi kertas karton.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan penggunaan soal terbuka dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan pola pikir kritis dan kreatif  peserta didik untuk mencapai kompetensi, keterampilan abad 21 dan profil pelajar Pancasila. (*)