Oleh: Rima Wijayanti, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Taman, Kab. Pemalang
TEKS eksposisi adalah teks nonfiksi yang memuat dan menjelaskan suatu informasi atau pengetahuan berdasarkan fakta sebenarnya. Sebuah informasi atau pengetahuan dalam teks eksposisi disampaikan secara singkat, jelas, padat, dan akurat. Informasi atau pengetahuan tersebut harus meliputi: apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana berdasarkan fakta yang sebenarnya. Teks eksposisi berisi informasi atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya oleh penulis. Dalam mengidentifikasi struktur teks eksposisi, di kelas 8 SMPN 2 Taman Kabupaten Pemalang, guru menggunakan model pembelajaran scramble. Pengertian, langkah-langkah, dan kelebihan serta kelemahan model pembelajaran ini akan diuraikan lebih lanjut.
Istilah scramble berasal dari bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti perbuatan pertarungan dan perjuangan. Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara membagikan lembar soal dan lembar jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia, Shoimin (Patty, 2015: 1).
Ada 3 macam struktur teks eksposisi, yaitu: 1) Pendahuluan atau thesis. Pendahuluan atau thesis dapat disebut sebagai bagian gagasan utama. Pada bagian ini, penulis menyampaikan inti informasi atau pengetahuan yang akan disampaikan. 2) Penjelasan atau argumentasi. Pada bagian ini, penulis menjabarkan latar belakang pemilihan gagasan utama berdasarkan fakta yang memperkuatnya. 3) Penegasan ulang atau simpulan. Struktur ini merupakan struktur penutup teks eksposisi. Penulis menuliskan kembali simpulan secara singkat dan jelas pada bagian ini.
Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam mengidentifikasi struktur teks eksposisi tersebut, yaitu: 1) Persiapan. Pada tahap ini guru menyiapkan bahan dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Media tersebut berupa kartu soal dan kartu jawaban, yang sebelumnya jawaban telah diacak sedemikian rupa (macam-macam struktur teks eksposisi). 2) Kegiatan inti. Pada tahap ini, masing-masing kelompok melakukan diskusi untuk mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.
Kemudian, 3) tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut tergantung dari hasil belajar siswa. Contoh kegiatan tindak lanjut antara lain: kegiatan pengayaan, yaitu pemberian tugas serupa dengan bahan yang berbeda. Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat susunan yang tidak memperlihatkan kelogisan, mengubah materi bacaan, mencari makna kosakata baru di dalam kamus dan mengaplikasikan dalam pemakaian kalimat, membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam teks wacana latihan. Satu hal yang penting dalam model ini, siswa tidak sekadar berlatih memahami dan menemukan susunan teks yang baik dan logis, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis analitis.
Pada praktiknya, scramble mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan metode ini, antara lain 1) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. Setiap anggota kelompok harus mengetahui bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama. Dalam teknik ini, setiap siswa tidak ada yang diam karena setiap individu diberi tanggung jawab akan keberhasilan kelompoknya. 2) Memungkinkan siswa untuk saling belajar sambil bermain. Mereka dapat berkreasi sekaligus belajar dan berpikir, mempelajari sesuatu secara santai dan tidak membuat mereka stress atau tertekan. 3) Selain membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan tertentu, metode scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas dalam kelompok. 4) Materi yang diberikan melalui salah satu metode permainan biasanya mengesankan dan sulit untuk dilupakan. 5) Sifat kompetitif dalam metode ini dapat mendorong siswa berlomba–lomba untuk maju.
Dengan memaksimalkan kelebihan model pembelajaran ini, kelemahan yang dimiliki dapat diminimalisir dan hasil belajar siswa akan meningkat. Selain itu, siswa memiliki pengalaman belajar yang lebih bermakna. Oleh karenanya, disarankan agar model pembelajaran ini dapat diterapkan untuk muatan pelajaran yang berbeda. (*)








