Oleh: Sudibyo, S.Pd.SD
Guru SDN Ambokulon, Kec. Comal, Kab. Pemalang
PADA pembelajaran muatan pelajaran matematika, keterampilan guru dalam mengajar menjadi modal yang sangat penting. Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan dapat mendorong dan mengembangkan proses berpikir yang kreatif. Siswa akan mudah dilibatkan dalam proses pembelajaran. Hal ini sangatlah penting karena melibatkan siswa dalam pembelajaran dapat membantu proses pembelajaran yang kondusif.
Tetapi untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran sangatlah tidak mudah. Banyak permasalahan yang muncul dan harus diperhatikan atau dimengerti oleh guru, mulai dari permasalahan siswa yang dibawa dari rumah, hubungan antar siswa dengan siswa yang lain, masalah belajar siswa, bermain saat mengikuti proses pembelajaran dan masih banyak lagi. Hal tersebut dapat menyebabkan rendahnya keaktifan, antusias, dan hasil belajar siswa. Untuk itu, guru diharapkan dapat memberikan motivasi, bimbingan, dan solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa dalam belajar.
Mencermati permasalahan pembelajaran yang diuraikan di atas, perlu ada solusi dalam pelaksanaan pembelajaran, termasuk di kelas VI SD Negeri Ambokulon yang sebagian besar masih suka bermain di sela-sela pembelajaran setiap ada kelonggaran waktu. Kebiasaan mengikuti pembelajaran sambal bermain inilah yang menyebabkan hasil belajar sangatlah rendah, terutama untuk muatan pelajaran matematika Kompetensi Dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung campuran yang melibatkan bilangan cacah, pecahan, dan desimal dalam bentuk sesuai urutan operasi. Melihat hal ini guru menggunakan metode bermain memburu harta karun. Diharapkan dengan metode ini, para siswa bisa lebih aktif dan hasil belajar meningkat.
Menurut Kim dan Yao, permainan memburu harta karun adalah sebuah aktivitas belajar di luar kelas yang menuntut siswa untuk mencari serangkaian petunjuk yang disembunyikan untuk sebuah informasi terbaru. Istilah berburu harta karun terinspirasi dari kegiatan berburu menemukan petunjuk/ bukti mengarah kepada tujuan akhir.
Pembelajaran dengan menggunakan berburu metode harta karun dilakukan dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Sebelum proses pembelajaran, guru sudah mempersiapkan beberapa harta karun sesuai dengan jumlah kelompok dan disembunyikan di sekitar halaman sekolah. Harta karun nantinya akan dicari oleh setiap kelompok. Harta karun tersebut berupa soal matematika materi menghitung keliling dan luas bangun datar yang harus dikerjakan oleh setiap kelompok setelah didapatkan.
Tetapi, pada saat awal pembelajaran guru sudah menjelaskan materi Kompetensi Dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung campuran yang melibatkan bilangan cacah, pecahan, dan desimal dalam bentuk sesuai urutan operasi di dalam kelas. Setelah selesai penjelasan materi, guru menugaskan seluruh kelompok untuk keluar ruangan kelas dan berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing membentuk barisan lurus dengan kedua tangan berpegangan pundak teman yang ada di depannya. Kemudian, guru memberikan aba-aba kepada semua kelompok untuk mencari harta karun di sekitar halaman sekolah. Di sini guru bisa mengamati siswa yang bersemangat dan dengan raut wajah gembira.
Kelebihan metode berburu harta karun antara lain mengajak siswa lebih dekat dengan alam (suasana baru), memberikan motivasi dan gairah untuk memecahkan setiap soal, dan bisa menumbuhkan sikap kerjasama karena setiap anggota memberikan kontribusinya untuk kelompoknya.
Sedangkan, kelemahan metode ini adalah memerlukan waktu yang relatif panjang dan siswa akan leluasa melakukan kegiatan yang di luar proses pembelajaran. Namun demikian, metode bermain memburu harta karun tetaplah membantu siswa kelas VI SDN Ambokulon Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang dalam proses pembelajaran Kompetensi Dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung campuran yang melibatkan bilangan cacah, pecahan, dan desimal dalam bentuk sesuai urutan operasi. Siswa menjadi senang, lebih antusias, dan hasil belajar meningkat. (*)








