KUDUS, Joglo Jateng – Setelah menyelesaikan kegiatan Penilaian Akhir Tahun (PAT), para pelajar SMK NU BANAT Kudus diberikan program class meeting. Berbeda dengan sekolah lainnya, mereka melaksanakan kegiatan itu dengan event penumbuhan jiwa entrepreneurship yang dilaksanakan selama tiga hari sejak 14 Juni lalu.
Kepala SMK NU BANAT Kasiati menjelaskan, setelah para siswi menyelesaikan kegiatan PAT, mereka diberikan program atau kegiatan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Mulai dari tahun lalu, pihaknya mengadakan class meeting yang menunjang jiwa kewirausahaan dalam bidang tata busana.
“Insyaallah konsep ini akan terus dijalankan dan dikembangkan kedepannya. Sehingga nantinya anak-anak mulai dari kelas X hingga XII terbentuk mindset bahwa mereka adalah anak vokasi jurusan tata busana atau fashion,” ujarnya.
Untuk menunjang jiwa entrepreneurship tumbuh dalam diri anak didik, pihak sekolah mengundang orang yang expert dalam bidangnya untuk mengajari para siswi kelas X SMK NU BANAT. Baik dari alumni sendiri maupun orang lain.
Adapun alumni yang diundang sebagai pengajar merupakan mereka yang telah terjun di dunia entrepreneurship, dan sudah sukses. Mereka dipanggil ke sekolah guna memberikan pengajaran serta berbagi pengalaman dengan adik-adik kelasnya.
“Dengan begitu, sejak kelas X para siswi dapat mengenal dunia yang sedang mereka pelajari. Artinya anak-anak ini sedang belajar jurusan atau bidang keahlian fashion atau tata busana. Jadi jangan sampai mereka di kelas X masih nol pengetahuannya tentang apa saja yang mereka bisa tekuni kedepannya ketika mempelajari bidang fashion ini,” terangnya.
Disana, para siswi diberikan berbagai informasi dan pengetahuan. Bukan hanya soal jahit-menjahit, tetapi juga terdapat designer, expertise, pattern maker, fashion stylist, make up artist, entrepreneurship, editor majalah fashion, model, dan lain sebagainya. Karena bidang tata busana cakupannya sangat luas.
“Harapan kami mereka terinspirasi untuk bisa berkembang dalam passion nya masing-masing. Jadi saling support untuk kearah fashionnya. Karena ketika menjadi seorang designer, bukan semata-mata hanya membutuhkan kemampuan desain busana yang mereka butuhkan, tetapi mereka juga butuh skill lainnya,” ucapnya.
Kasiati menegaskan lulusan SMK bisa ber-WBM (Wirausaha, bekerja, melanjutkan sekolah). Pihaknya berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk merubah image negatif yang ditujukan pada SMK.
“Harapan besar saya, dengan adanya kegiatan ini, kita sedikit-sedikit ingin menyampaikan ke masyarakat luas bahwa image alumni SMK adalah penyumbang pengangguran terbesar ini bisa terhapuskan,” harapnya. (cr1/fat)










