YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah investasi penting bernilai tinggi. Mengingat, pada masa tersebut anak sedang dalam periode emas dalam memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan otak serta fisik.
Ketua Pokja Ibu PAUD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) A. Paku Alam menyampaikan, pada periode ini pula menjadi kesempatan paling optimal bagi Kelompok Kerja (Pokja) Ibu PAUD untuk menekan angka stunting. Yakni melalui pemaksimalan pertumbuhan anak, baik dari sisi kesehatan fisik maupun mental.
Menurut Gusti Putri, Pokja Ibu PAUD DIY memiliki peran penting dalam mendorong dan mendampingi para orang tua dan satuan PAUD untuk mewujudkan generasi emas anak-anak di Yogyakarta. Kinerja Pokja Ibu PAUD juga sudah sewajarnya dimaksimalkan untuk menyiapkan masa depan gemilang anak Indonesia yang bebas stunting.
Hal tersebut, lanjutnya, sebagaimana salah satu tugas Pokja Ibu PAUD, yakni mengupayakan penanggulangan stunting (kekerdilan) pada anak. Upaya menekan angka stunting yang dimulai dari PAUD tersebut, diharapkan dapat mewujudkan SDM di Indonesia semakin maju.
Selain itu, pihaknya menuturkan, seperti yang diketahui bersama bahwa persoalan stunting masih membayangi jutaan anak di Indonesia. Mengacu pada Survei Status Gizi Balita pada tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia tercatat sebesar 27,67%, di atas batas 20% yang ditetapkan oleh WHO.
“Bertolak dari realita tersebut, Presiden RI telah menginstruksikan untuk menurunkan angka stunting atau kondisi gagal tumbuh menjadi 14% pada tahun 2024. Oleh sebab itu, penanggulangan stunting merupakan salah satu program utama jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui terciptanya PAUD Holistik Integratif,” paparnya beberapa waktu lalu.
Lebih jauh, menurutnya, Pokja Ibu PAUD DIY berkomitmen untuk mencegah terjadinya stunting. Pihaknya melalui kegiatan-kegiatan masif dengan membangun kemitraan bersama berbagai pihak.
Upaya tersebut bertujuan agar anak-anak daerah ini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal. Lalu disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi, dan berkompetisi di tingkat global.
Selain itu, Gusti Putri menyebutkan, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting. Yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi, dan akses air bersih. Upaya pencegahan stunting tersebut membutuhkan peran aktif dari semua sektor dan tatanan masyarakat.
“Adapun konsep pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) atau dalam istilah GERMAS kita mengenal dengan ISI PIRINGKU. Yaitu makanan 1 piring terdiri dari 1/3 makanan pokok, 1/3 sayuran, 1/6 buah-buahan, dan 1/6 lauk pauk,” terangnya.
Sementara itu, Gusti Putri mengutarakan, selain Isi Piringku sebagai pemenuhan gizi seimbang, juga harus didukung dengan menjaga kebersihan lingkungan dan kebiasaan hidup yang baik lainnya. Seperti minum air putih yang cukup, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
Adapun konsep pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman tersebut telah dikuatkan dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2009. Yakni tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.(hms/ziz)










