SEMARANG, Joglo Jateng – Siswa di SDN 02 Kembangsari diajak untuk membuat batik di hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan dilakukan di halaman sekolah, dan diikuti oleh 149 siswa dari kelas satu hingga kelas enam bersama 11 guru yang mendampingi.
Kepala Sekolah SDN 2 Kembangsari, Tukijo menyampaikan, selain dalam rangka penutupan kegiatan MPLS, aktivitas ini juga merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan brand sekolah kepada para siswa. Kemudian, kegiatan ini diharapkan membuat siswa senang dan suka terhadap lingkungan sekolah dan bapak ibu gurunya.
“Sesuai branding kami yaitu batik yang kepanjangannya adalah berbudaya, adil, toleransi, inovasi, dan kreatif. Karena sejak 2017 Pemkot Semarang mewajibkan setiap sekolah memiliki brand sendiri, dan batik brand kita” ungkapnya, Rabu (13/7).
Dirinya mengungkapkan, hasil kaos yang telah dibuat oleh para siswa nantinya akan digunakan sebagai seragam olahraga di SDN 02 Kembangsari. Harapannya para siswa akan bangga ketika memakai kaos tersebut yang merupakan hasil dari kreatifitasnya masing-masing.
“Anak-anak bisa meningkatkan kreatifitas tinggi diawali dengan membatik ini semua punya kreasi masing-masing supaya ini juga bisa manfaat untuk ke depannnya,” ucapnya.
Sementara itu, guru seni SDN 2 Kembangsari, Retno Sulistiowati menjelaskan, keterampilan batik yang dibuat hari ini adalah batik shibori. Dalam pembuatannya, batik ini menggunakan teknik pencelupan dan ikatan, serta remasol untuk pewarnaannya.
Selanjutnya, alasan memilih batik shibori ketimbang batik tulis adalah, pembuatan batik shibori lebih terjangkau. Selain terjangkau, batik shibori pun lebih mudah pembuatannya, Retno menjelaskan, langkah pertama untuk membuat batik shibori, pertama kain diikat terlebih dahulu dengan karet dan kelereng, kemudian kain diberi warna sesuai selera. Selanjutnya, setelah setengah kering, ikatan di lepas dan di keringkan, kemudian terakhir kaos dibilas dan dikeringkan lagi.
“Untuk siswa hanya membawa botol kosong, kaos, dan gantungan baju, sedangkan sekolah menyediakan pewarna, karet, dan kelereng. Alasan kita buat batik shibori, karena batik ini sangat mudah buatnya, jadi anak-anak kelas 1 bisa untuk mengikutinya,” jelasnya.
Disisi lain, Safitri salah satu wali murid kelas satu yang menemani anaknya mengikuti kegiatan MPLS tersebut mengatakan sangat mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut bisa untuk meningkatkan motorik dan kreatifitas anak. “Tentunya sangat senang, saya sangat mendukung kegiatan ini, karena anak bisa lebih kreatif,” katanya. (luk/gih)










