Kuasa orang-orang berduit membuat orang kecil semakin terpinggirkan. Tapi Markom tidak menyerah…
MEMUNGUT botol bekas di sungai menjadi pilihan Markom, seorang nelayan kecil asal Dukuh Ngantru, Desa Mustokoharjo, Kecamatan Pati. Aktivitas itu menjadi jalan pintas mengais rejeki saat ikan sulit di dapat.
Pria paruh baya itu mengungkapkan, dirinya mengumpulkan botol bekas di sepanjang bantaran Sungai Silugonggo. Dimana, aliran sungai tersebut menjadi mata pencariannya sehari-sejari selain melaut.
“Kalau ngga nyari ikan di sungai, iya ambil rosokan (botol). Yang penting bisa buat tambah-tambahan penghasilan. Saat ini ikan di sungi juga sulit,” ucapnya, Senin (1/8).
Menurutnya, sampah atau botol bekas di sungai cenderung lebih banyak ketimbang di daratan. Tepatnya di sepanjang tepi Sungai Silugonggo yang menjadi sarang puing-puing rupiah baginya.
“Itu rosok masih ada satu perahu, belum saya masukan ke wadah. Jadi, sepanjang Sungai Silugonggo botol-botol banyak sekali, iya di tepi-tepi itu,” ungkapnya.
Markom juga menceritakan, dirinya dulu mencari ikan di laut. Kebutuhannya sehari-hari mampu tercukupi dari hasil melaut.
Namun kini ia tidak mencari ikan di laut lagi. Hal itu dikarenakan adanya tumbukan kapal besar di sungai Juwana yeng menghadang jalan dari bulan Syawal lalu. Sehingga, Markom sudah hampir sekitar 4 bulan tidak melaut.
“Jadi kalau tidak segera diatasi, ya saya tidak bisa mencari ikan di laut. Sementara ini menunggu ada jalan, jadi saya mencari ikan hanya di sungai Silungonggo ini saja. Karena tidak bisa mencari ikan di laut,” tegasnya.
Tak hanya dirinya saja yang terhenti mencari ikan di laut. Namun, ada sekitar 70 nelayan di desa tersebut yang senasib dengan dirinya. Berdasarkan keteranganya, kepadatan kapal besar, dimulai dari Pabrik Tapal Kuda hingga pulau Seprapat Juwana.
“Kalau bisa kapal kecil diberikan jalan. Jadi, kapal besar jangan menang-menangan sendiri. Cari ikan di laut itu mudah, sehari saja bisa dapat hasil Rp 100 lebih. Tapi kalau di sungai saja, paling besar Rp 50 ribu,” ujarnya. (lut/gih)










