Model Pembelajaran Flipped Classroom untuk Implementasi Kurikulum Merdeka

Oleh: Shohib, S.Pd.SD., M.Pd.
Guru SDN Kangkung 3, Kec. Mranggen, Kab. Demak

KURIKULUM Merdeka hadir sebagai solusi mengatasi krisis pembelajaran yang diakibatkan oleh Covid-19. Di dalam kurikulum ini, guru dapat memilih dan menentukan format, materi esensial, cara dan pengalaman yang ingin disampaikan kepada siswa. Guru diharapkan mampu menjadi penggerak yang mampu menggali dan memaksimalkan potensi siswanya. Karena setiap siswa memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan.

Selamat Idulfitri 2024

Merdeka belajar berarti guru maupun siswa memiliki kebebasan untuk berinovasi serta belajar dengan mandiri dan kreatif. Sehingga proses pembelajaran yang dilakukan berjalan lebih fleksibel dan menyenangkan. Guru-guru dituntut untuk dapat mendidik siswanya sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka masing-masing. Sehingga guru harus mampu membuat serta mengembangkan model pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan efektif bagi siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat dipakai dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah model pembelajaran flipped classroom.

Model pembelajaran berbasis flipped classroom merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan cara meminimalkan jumlah instruksi langsung, tapi memaksimalkan interaksi satu-satu. Strategi ini memanfaatkan teknologi yang mendukung materi pembelajaran tambahan bagi siswa yang dapat diakses secara online maupun offline kapan pun dan di mana pun. Sedangkan waktu pembelajaran di kelas digunakan siswa untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan proyek, keterampilan praktik, dan menerima umpan balik tentang kemajuan mereka.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Model flipped classroom memberikan apa yang umumnya di lakukan di kelas dan apa yang umumnya dilakukan sebagai pekerjaan rumah, kemudian dibalik atau ditukar. Sebelumnya, siswa datang ke kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, selanjutnya mereka pulang untuk mengerjakan latihan soal. Sekarang yang terjadi adalah siswa membaca materi, melihat video pembelajaran sebelum mereka datang ke kelas dan mereka mulai berdiskusi, bertukar pengetahuan, menyelesaikan masalah, dengan bantuan siswa lain maupun guru, melatih siswa mengembangkan kefasihan prosedural jika diperlukan, inspirasi dan membantu mereka dengan proyek-proyek yang menantang dengan memberikan kontrol belajar yang lebih besar (Damayanti & Sutama, 2016).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Sintak model pembelajaran flipped classroom secara umum dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu sebelum kelas dimulai (guru mengunggah materi, siswa membuka dan mempelajari materi), saat kelas berlangsung (guru menyiapkan segala pertanyaan yang memungkinkan diajukan oleh siswa dan mempersiapkan ruang diskusi untuk menyelesaikan pertanyaan yang mungkin muncul, siswa menyiapkan pertanyaan berdiskusi bersama teman dan guru), dan setelah kelas berlangsung (guru mengunggah materi pembelajaran tambahan, siswa melanjutkan menerapkan keterampilan pengetahuan mereka setelah klarifikasi dan umpan balik).

Kelebihan menggunakan model pembelajaran flipped classroom antara lain siswa dapat mengulang-ulang materi/video, sehingga siswa benar-benar memahami materi. Siswa dapat mengakses video tersebut dari mana pun asalkan memiliki sarana yang cukup bahkan bisa disalin melalui flash disk dan di download; efisien karena siswa diminta untuk mempelajari materi di rumah dan pada saat di kelas, siswa dapat lebih memfokuskan kepada kesulitannya dalam memahami materi ataupun kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal berhubungan dengan materi tersebut, dan siswa dituntut untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan video pembelajaran yang diberikan sehingga mendukung semangat belajar.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kekurangan model pembelajaran flipped classroom di antaranya memerlukan sarana yang memadai baik komputer, laptop, maupun handphone. Diperlukan koneksi internet yang lumayan bagus untuk mengakses video, terutama apabila file-nya berukuran besar, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama membuka atau mengunduhnya. Siswa tidak mampu mengajukan pertanyaan kepada guru atau rekan-rekan mereka pada saat menonton video. (*)