PURWOKERTO, Joglo Jateng – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong kolaborasi pelaku pasar modal termasuk manajer investasi dengan perguruan tinggi. Hal tersebut dilakukan sebagai kunci strategis untuk mempercepat peningkatan inklusi keuangan dan literasi investasi, baik konvensional maupun syariah di kalangan generasi milenial.
Kepala Kantor OJK Purwokerto, Riwin Mirhadi mengatakan, tingkat literasi yang baik menjadi kunci utama bagi kemajuan industri pasar modal nasional. Sebab menurutnya, tingkat literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih cukup rendah. Hal itu terbukti dari masih tingginya masyarakat milenial termasuk mahasiswa yang terjerat masalah investasi bodong yang cukup marak belakangan ini.
“Dari hasil survei OJK pada 2019, secara umum levelnya masih di angka 38 persen, sementara untuk generasi milenial 48 persen, dan Gen Z di level 44 persen. Ini belum cukup dan perlu terus kita tingkatkan sehingga nantinya tidak ada lagi mahasiswa yang jadi korban penipuan investasi bodong,” katanya.
Menurut dia, OJK juga melihat upaya literasi juga sangat strategis sebagai tindak preventif bagi perlindungan konsumen. Pasalnya, OJK mensinyalir bahwa maraknya kasus investasi bodong ini disebabkan oleh adanya peluang, yakni minimnya tingkat literasi keuangan investasi di masyarakat.
Riwin menegaskan, OJK sangat kuat berkomitmen untuk mengembangkan literasi keuangan, khususnya investasi syariah. Pasalnya, diakui bahwa pangsa pasar investasi syariah masih rendah kurang. Padahal, investasi syariah memiliki potensi yang besar di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama PNM Investment Management, Bambang Siswaji mengatakan, kerja sama dengan Unsoed ini cukup strategis untuk meningkatkan literasi investasi bagi kalangan mahasiswa. “Kita juga berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan literasi keuangan, khususnya investasi reksadana dengan menggandeng perguruan tinggi lainnya di Indonesia,” tegasnya.
Bambang optimistis dengan ditopangnya ekosistem teknologi digital, peningkatan inklusi keuangan dan literasi investasi di Indonesia bisa mengalami akselerasi yang tinggi. “Terciptanya budaya melek digital ini akan lebih cepat mendorong masyarakat generasi tersebut untuk menjadi melek keuangan,” ujarnya. (ara/abd)










