UMKM  

Kembangkan Makring dari Hasil Petani Lokal

HASIL OLAHAN: Sri Ratnawati memperlihatkan produk criping miliknya, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

Hasil pertanian masih banyak dikuasai beberapa orang tertentu. Tak banyak dari masyarat sendiri yang berhasil mengolahnya, tapi tidak dengan KWT Berkah Lumintu.

SEMANGAT ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Lumintu patut diacungi jempol. Lahir di 2011, kelompok mereka fokus mengembangkan makanan ringan dari hasil petani lokal di Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

Ketua KWT Berkah Lumintu, Sri Ratnawati (55) mengatakan, usaha tersebut berbasis kelompok dengan memanfaat hasil bumi lokal. Di mana kelompok yang ia gawangi itu memiliki 36 anggota.

“Anggota kelompok sekarang ada 36 orang. Kalau yang punya usaha ada 3 orang. Sementara bahan kita ngambil dari hasil pertanian warga lokal (Desa Banyuurip). Dari mulai ketela, pisang dan juga tales,” ungkapnya, Senin (29/8).

Kemudian hasil petani tersebut, ia membuat menjadi produk olahan criping. Dalam waktu sehari saja, dirinya kini memproduksi makanan ringan tersebut sebanyak 10 kilo lebih. Sementara para anggota KWT yang tidak memliki usaha diberikan tugas untuk pemasaran.

“Anggota kelompok membantu memasarkan. Pasar saat ini baru lokalan Pati saja. Namun sebelum muncul pandemi, penjualan dulu online hingga keluar luar kota. Dari mulai Purwodadi, Kudus, Demak serta Semarang,” kata Sri.

Produknya tersebut ia kemas dalam berbagai ukuran. Dari mulai dari satu bungkus berisi setengah kilo dan seperempat kilo. Sedangkan harga jual produknya itu ia patok di angka Rp 50 ribu per kilo.

Pihaknya juga berharap supaya pandemi Covid-19 yang sudah melandai ini benar-benar berlalu. Dengan begitu, penyerapan produknya itu bisa lancar kembali.

Di lain sisi, Sri mengeluhkan terkait kesulitan pupuk untuk ketela. Meski demikian, menurutnya, para petani terus berusaha untuk memberi pupuk.

“Pupuk untuk ketela mahal, karena sudah tidak di subsidi dari pemerintah. Akan tetapi petani itu pantang menyerah, meskipun bisa pakai pupuk kandang tapi terkadang juga perlu pupuk non subsidi,” tutupnya. (lut/gih)