Guru Besar Undip: Pemkot Semarang Perlu Susun Peta Mikrozonasi Gempa

KONDISI: Pegawai rumah sakit memeriksa tembok ruang pasien yang retak akibat gempa bumi di RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo, Ambarawa, Kabupaten Semarang, beberapa waktu lalu. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Windu Partono mengatakan, Pemerintah Kota Semarang perlu menyusun peta mikrozonasi gempa. Hal itu untuk menindaklanjuti keberadaan lima sumber gempa di sekitar Ibu Kota Jawa Tengah itu.

“Pusat Studi Gempa Nasional pada 2017 telah merilis tentang lima sumber gempa sesar aktif di sekitar Kota Semarang,” kata Windu, belum lama ini.

Kelima sumber gempa tersebut masing-masing Sesar Weleri, Sesar Semarang, Sesar Demak, Sesar Purwodadi dan Sesar Rawapening.

Keberadaan kelima sesar tersebut, lanjut dia, perlu ditindaklanjuti dengan penelitian dan pembuatan Peta Mikrozonasi Gempa Kota Semarang. Sehingga, tingkat kerentanan wilayah terhadap bahaya gempa bisa diketahui.

Ia menjelaskan, peta mikrozonasi gempa dikembangkan dengan membagi satu wilayah menjadi zona yang lebih kecil. “Dengan pembagian zona yang lebih kecil, maka potensi getaran permukaan tanah akibat sumber gempa terdekat dapat diidentifikasi dan diprediksi dengan lebih teliti,” paparnya.

Ia menuturkan, pengembangan peta mikrozonasi sangat diperlukan. Sebab, peta getaran tanah yang dikembangkan Kementerian PUPR dibuat dalam skala nasional, sehingga tidak mudah diamati secara kasat mata.

“Tujuan pengembangan peta mikrozonasi gempa untuk mengidentifikasi potensi bahaya di satu wilayah akibat skenario kejadian gempa,” ujarnya. (ara/gih)