Oleh: Jaziroh, S.Pd.SD.
Guru SDN Ambokulon, Kec. Comal, Kab. Pemalang
BAHASA Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib provinsi. Meskipun bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari warga Jawa, namun pembelajaran bahasa Jawa kurang disenangi oleh peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari proses dan hasil pembelajaran yang rendah. Menurut peserta didik, pembelajaran bahasa Jawa sama sulitnya dengan pembelajaran matematika. Begitu pun dengan peserta didik kelas V SD Negeri Ambokulon, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang.
Selaku pendidik, penulis harus mengubah mindset mereka, bahwa bahasa Jawa itu mudah. Misalnya saja pada pembelajaran Bahasa Jawa kompetensi dasar membaca kalimat berhuruf Jawa yang menggunakan sandhangan panyigeg wanda. Penulis berusaha mencari metode pembelajaran yang menyenangkan, mengajak peserta didik terlibat aktif, dan berhasil dengan optimal bahkan sepanjang hayat. Setelah mencari metode pembelajaran dari berbagai sumber dan informasi, penulis mencoba menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan yaitu bermain.
Karakteristik peserta didik sekolah dasar adalah senang bermain. Menurut Vygotsky (1962), bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognisi seorang anak. Menurut Vygotsky, seorang anak belum dapat berpikir abstrak karena bagi mereka makna dan objek menjadi satu. Melalui bermain, ia akan dapat memisahkan makna dengan objek sebenarnya. Dengan demikian, bermain merupakan proses self-help tool.
Keterlibatan anak dalam kegiatan bermain memberi peluang untuk memperoleh kemajuan dalam perkembangannya bahkan memajukan zone of proximal development (ZPD), sehingga mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam memfungsikan kemampuannya. Oleh karena itu, dalam pembelajaran membaca kalimat berhuruf Jawa yang menggunakan sandhangan panyigeg wanda, menerapkan metode bermain kartu taplok. Penerapan metode ini secara langsung mengajak peserta didik bermain yang menyenangkan, dan secara tidak langsung mengajak peserta didik terlibat aktif selama proses pembelajaran, mengajak peserta didik belajar. Dengan demikian diharapkan hasil pembelajaran optimal dan bermakna.
Sandhangan panyigeg wanda merupakan sandhangan yang fungsinya memberi konsonan pada setiap huruf. Sandhangan panyigeg wanda ada empat. Pertama yaitu wignyan (h) untuk memberikan konsonan “h”, contoh gajah: gjh. Kedua yaitu layar (/) untuk memberikan konsonan “r”, contoh pagar: pg/. Ketiga yaitu cecak (=) untuk memberikan konsonan “ng”, contoh pasang: ps=. Keempat yaitu pangkon (P), contoh papan: ppP.
Penerapan metode pembelajaran ini, kartu dibuat semenarik mungkin bentuknya, tidak harus persegi, tetapi bisa bentuk bunga, daun, hewan, dan sebagainya. Cara bermain kartu taplok dalam pembelajaran huruf Jawa sandhangan panyigeg wanda, yang pertama membuat kartu dengan kata-kata yang di dalamnya terdapat sandhangan panyigeg wanda. Sebaliknya kartu ada kunci jawaban yang ditutup bunyi dari kata tersebut. Setiap peserta didik memegang lima kartu dan saling berpasangan. Warna kartu lawan dibuat berbeda dengan tujuan agar tidak tertukar saat bermain. Selanjutnya mereka saling tos dengan kartu tersebut. Kartu yang telentang dilihat warnanya. Jika kartu yang telentang berwarna hijau, maka peserta didik yang menjawab adalah peserta didik B. Untuk mengetahui kunci jawaban yang benar, peserta didik A mengambil kartu tersebut dan dilihat kunci jawaban di balik kartu. Jika benar maka akan mendapatkan nilai 10, jika salah akan mendapat nilai 0. Nilai dituliskan pada kartu nilai. Ulangi terus permainan tersebut sampai masing-masing peserta didik menjawab lima kartu. Saat permainan sedang berlangsung, guru berkeliling mengamati dan memberikan bimbingan, petunjuk, dan bantuan jika ada peserta didik yang membutuhkan. Setelah semua peserta didik menyelesaikan permainannya, selanjutnya guru menyusun kartu-kartu tersebut membentuk kalimat dan peserta didik menuliskan jawabannya pada lembar kerjanya.
Berdasarkan penerapan metode bermain kartu taplok/tos, pada pembelajaran bahasa Jawa kompetensi dasar membaca kalimat berhuruf Jawa yang menggunakan sandhangan panyigeg wanda menunjukkan hasil yang memuaskan. Dampak psikologisnya membuat mereka tidak tertekan dalam proses pembelajaran. Peserta didik terlihat senang dan ceria. Semua peserta didik antusias dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Materi pembelajaran mudah diingat. Hasil evaluasi terhadap peserta didik optimal. Penulis berharap materi pembelajaran ini akan bermakna bagi peserta didik, dapat diterapkan pada pembelajaran di sekolah lanjutan maupun dalam kehidupannya kelak. (*)








