Kudus  

Kebhinekaan Sesuatu yang Perlu Diikat

KEBHINEKAAN: Kanit Keamanan Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan saat memberikan materi mengenai kebhinekaan di Gedung Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Kaliwungu, Selasa (11/10) malam. (HUMAS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) kembali menyelenggarakan kegiatan perumusan kebijakan teknis dan pemantaan pelaksanaan Bidang Ideologi Pancasila dan Karakter Kebangsaan. Dengan tema memperkokoh wawasan kebangsaan dalam rangka merawat kebhinekaan.

Kanit Keamanan Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan, sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut menyatakan, wawasan kebangsaan dan kebhinekaan atau keberagaman itu ibarat dua sisa koin mata uang yang saling berkaitan.

“Adanya wawasan kebangsaan itu karena kebhinekaan, dan kebhinekaan akan tetap ada ketika wawasan kebangsaannya kokoh. Kebhinekaan sendiri sesuatu yang harus diikat, agar tidak tercerai berai dan wawasan kebangsaan bentuk ikatannya,” ucapnya.

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan, harus meyakini kebhinekaan akan tetap terjaga dikarenakan NKRI adalah bentuk tali pengikat yang kuat. Sekaligus, Pancasila adalah cara mengikat yang paling tepat.

“Keduanya dipilih oleh para pendiri negara dengan banyak pertimbangan dan sudah sesuai hukum agama, serta hukum negara. Sehingga terbukti kekuatannya sampai saat ini,” tuturnya.

Menurutnya, tidak ada bentuk khusus negara dalam ajaran agama, sehingga dalil yang dipakai baldatun toyyibatun warobbun ghofur negara yang baik dan mendapat ampunan dari Tuhan. Negara baik yakni negara yang aman dan damai dar al salam. Sehingga mampu mewujudkan maqosyid syariat, yaitu menjaga agama hifdzu din, menjaga jiwa hifdzu nafs, menjaga keturunan hifdzu nasab, menjaga akal hifdzu aql dan menjaga harta benda hifdzu mal.

“Liga Arab yang berangkat dari satu daratan Arab, satu suku bangsa Arab dan satu bahasa Arab sampai saat ini terpecah menjadi sekitar 22 negara. Sedangkan, NKRI kita yang terdiri atas 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa dan 1.211 bahasa telah terbukti mampu bertahan dari rongrongan berita hoak bersifat propaganda, agitasi dan provokasi yang bertujuan memecah belah persatuan, serta kelompok radikal baupik radikal kanan maupun kiri,” terangnya.

Keyakinan tersebut, lanjutnya, harus terus dibangun. Mengingat masih ada sebagian orang yang ingin mengganti bentuk tali pengikat dan merubah cara mengikat kebhinekaan. Upaya itu terus dilakukan hingga sampai saat ini dan terkadang membuat bentuk ikatan kebhinekaan sering kali kendor.  Untuk itu diperlukan peran semua orang agar kebhinekaan tetap terjaga dan jauh dari bibit-bibit perpecahan.

“Kedamaian tercipta bukan karena pelucutan senjata saja, tapi jauh lebih penting adalah pelucutan kebencian di setiap hati manusia. Hal itu akan dapat dilakukan apabila cara beragama kita mampu membuat orang disekitar kita tersenyum, alam tersenyum dan bahkan Tuhanpun ikut tersenyum. Karena, sesungguhnya kedamaian itu bukan karena agama tapi karena budaya. Apapun perbedaan agamanya kalau budayanya ngopi bareng, maka semua akan berjalan baik-baik saja,” pesan IPTU Subkhan mengakhiri materinya. (sam/fat)