KUDUS, Joglo Jateng – Hingga kini, terdapat enam kasus meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kudus. Jumlah itu sejak Januari sampai Agustus 2022 yang mayoritas merupakan anak-anak.
Ketua Bidang Pencegahan dan Pengendaian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Darsono mengatakan, penyebab kematian DBD karena keterlambatan penanganan. Antara lain menganggap gejala panas yang berkepanjangan diduga oleh masyarakat sebagai penyakit biasa. Sehingga abai terhadap gejala tersebut.
“Gejala DBD badanya panas selama tiga hingga tujuh hari. Namun ada yang mengira itu hanya panas biasa dan tidak segera diperiksa ke fasilitas kesehatan. Sehingga terlambat penanganannya. Kebanyakan anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun, karena daya tahan tubuhnya lemah,” ujar Darsono.
Ia juga menjelaskan, terdapat gejala awal penyakit DBD. Antara lain panas berkepanjangan yang tak kunjung turun tiga hingga tujuh hari.
Kemudian nafsu makan berkurang, mual, pusing dan pegal-pegal. Selain itu ia juga menyarankan agar langsung berobat ke puskesmas atau faskes terdekat setelah menemui gejala panas atau DBD lainnya.
Menurutnya, dengan jumlah kasus kematian sebanyak enam orang tersebut sudah tergolong tinggi. Pihaknya berharap masyarakat lebih waspada agar tidak bertambah lagi korban kematian akibat DBD. Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu, dapat mengakibatkan penurunan imunitas tubuh terutama pada anak-anak. (cr3/fat)










