Memahami Perkembangan Anak Kelas V SD saat Pembelajaran

Oleh: Erlina,S.Pd.
Guru SD Negeri 01 Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

MENURUT psikolog, anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dengan sendirinya. Namun memerlukan arahan dan bimbingan yang tepat dari lingkungan terdekatnya, agar mengerti siapa diri dan lingkungan sekitarnya. Pemaknaan dan pemahaman yang baik tentang diri dan lingkungan didapatkannya dari seberapa besar anak mendapatkan pemaknaan dan pemahaman akan dirinya yang diberikan lingkungannya (Rita Eka Izzaty, 2008)

Selamat Idulfitri 2024

Usia anak-anak merupakan salah satu jenjang usia yang cukup sulit untuk dipahami kondisi psikologisnya, terutama bagi anak dengan usia tanggung atau menjelang remaja. Seperti anak kelas 5 dan kelas 6 sekolah dasar (SD). Karakteristik anak pada usia kelas 5 SD dapat dilihat dari sisi psikomotor, kognitif, dan sosioemosional.

Dari segi psikomotor, umumnya tinggi dan berat badan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Pada usia ini juga anak-anak akan sangat suka melakukan aktivitas atau olahraga di luar ruangan. Anak pada usia ini sangat aktif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Selanjutnya, dari segi kognitif, tidak seperti anak pada usia sebelumnya, anak kelas 5 SD umumnya sudah mampu menggunakan operasi mental untuk memecahkan masalah konkrit. Anak usia ini juga sudah mampu menggunakan bahasa untuk menjelaskan keinginannya dengan lebih jelas dan sudah mampu memahami adanya sebab akibat.

Karakteristik lainnya adalah segi sosioemosional. Pada usia ini, biasanya anak sudah merasa mampu membentuk self esteem atau harga diri bagi dirinya. Anak juga mulai belajar berempati. Dari segi kecerdasan emosional juga, mereka sudah lebih baik karena dapat mengatur emosinya dan melibatkan kontrol yang disadari untuk mengaturnya.

Dari uraian di atas, ada beberapa tips untuk mengajar anak kelas 5 SD, yang sudah kami terapkan di SD Negeri 01 Mulyoharjo. Di antaranya adalah penyampaian materi yang sebaiknya lebih konkrit dan akan lebih baik apabila disertakan dengan alat bantu.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Selanjutnya, tidak lupa ajak anak agar dapat melakukan praktik langsung dari materi yang diajarkan. Anak pada usia ini juga harus sudah mulai dibentuk pola perilakunya, karena lingkungan sekolah juga sangat berpengaruh bagi pembentukan sikap anak. Ini dapat dimulai dari hal sederhana seperti menekankan pada anak tentang “tiga kata ajaib”. Yakni “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Hal ini akan membuat anak lebih menyadari tentang posisinya sebagai seorang makhluk sosial..

Manajemen kelas merupakan penitikberatan pada usaha mengarahkan siswa membentuk disiplin diri demi kemajuan studinya. Sehingga terbentuk self regulating learning, yang merupakan kontrol internal dari diri siswa itu sendiri.

Untuk melakukan manajemen kelas, diperlukan guru atau tenaga pendidik yang handal untuk mendesain lingkungan belajar yang optimal. Selanjutnya, sebagai pengajar, hendaknya membangun first impression atau kesan pertama yang baik. Selain itu, pengajar juga harus bisa mengajak siswa agar kooperatif dalam belajar dan harus menunjukkan tanggung jawab untuk memajukan kelas.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Untuk mempertahankan atensi anak di dalam kelas dan membangun semangat siswa, pengajar dapat menggunakan media seperti tepukan, gerakan, dan nyanyian. Terakhir, jangan lupa tentang metode pembelajaran. Karena metode pembelajaran yang menarik adalah hal yang baik untuk mempertahankan atensi siswa, terutama anak pada usia-usia tertentu. Beberapa metode pembelajaran yang menarik yang bisa diterapkan di dalam kelas di antaranya adalah metode sosiodrama. Yaitu metode pembelajaran dengan menggunakan peran-peran tertentu dalam belajar-mengajar.

Kemudian metode wayang, yaitu metode pembelajaran yang menggunakan media seperti puppets atau tokoh-tokoh wayang untuk memainkan peran-peran tertentu terkait dengan pembelajaran. Dan yang terakhir adalah metode simulasi, yaitu metode di mana anak-anak diajak untuk melakukan simulasi terkait materi yang telah diajarkan. (*)