MENGIDAP penyakit friedreich’s ataxia tak lantas membuatnya menyerah untuk menjadi orang hebat. Meski memiliki keterbatasan kesulitan berjalan, kehilangan sensasi di lengan dan kaki, serta gangguan bicara Yeni Endah sukses menjadi penulis andal berkat hobinya. Kini, namanya banyak dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama cerita anak dan remaja.
Penyakit yang diidap oleh wanita 35 tahun pun menyerang fungsi otot, jaringan saraf, dan sumsum tulang belakang. Meski dalam keterbatasan itu, Yeni mengaku hal itu tak membatasinya untuk ia berkarya. Terbukti, dengan kejuaaraan yang ia raih dari berbagai lomba menulis tingkat nasional.
“Di tahun 2015, saya mencoba ikut lomba menulis antologi cerpen karena ajakan seorang teman. Alhamdulillah, sejak itu saya sering ikut lomba menulis,” ceritanya saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.
Sejak kelas 3 SD, Yeni memang hobi menulis. Awalnya, ia menulis diary, lalu mulai menulis di blog yeniendah.blogspot.com. Tak hanya menulis untuk lomba, putri pasangan Fadholi dan Sri Rochmiyatun ini juga menulis untuk dikirim di media cetak.
“Karena mempunyai teman penulis yang memamerkan karya mereka di sosmed membuatku termotivasi. Akhirnya saya mencoba mengirim tulisanku ke media cetak,” katanya.
Puluhan karyanya sudah termuat, baik di majalah maupun koran. Karyanya berupa cerita non fiksi, yakni cerita anak, cerita lucu, dan cerita remaja. Seperti Jaga Terumbu Karang, Komputer Tua dan Laptop Baru, Teman Baru untuk Kiko, Pahlawan Kemanudiaan, Serupa Tapi Tak Harus Sama, Kembul Bujana, Kertas Daur Ulang, Cuci Paru-Paru, Hombo Batu, dan lainnya.
Saat ini, Yeni juga mencoba menulis cerita dengan Bahasa Jawa. Ia biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk membuat satu karya tulisan. Menulisnya pun masih menggunakan handphone.
“Keinginannya ya punya laptop yang accessible agar bisa membantu saya menulis,” ungkapnya.
Setidaknya dengan menulis ia bisa membantu meringankan beban orang tua dan berpenghasilan sendiri. Biasanya satu tulisan akan mendapat honor Rp 150 ribu-Rp 250 ribu. Tergantung masing-masing media.
Dengan lingkungan yang selalu men-support-nya, Yeni pun bisa berkarya. Ia bergabung dengan Komunitas Sahabat Difabel (KSD). Setiap satu minggu sekali, Yeni latihan untuk menulis. Selain belajar menulis di KSD, putri kedua dari tiga bersaudara ini juga belajar public speaking. (luk/gih)










