PERNIKAHAN bukan sekadar antar kedua insan, cocok, kemudian menikah. Padahal, ketidaksiapan umur, fisik dan pengetahuan jelang menikah, berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Ketidaksiapan perempuan dalam menikah, menjadi efek domino ke depannya. Selain secara finansial kocar-kacir, fisik dan pengetahuan yang belum mencukupi bisa meningkatkan resiko stunting pada keturunan.
Stunting atau pengkerdilan, menurut Dara asal Jepara, Utari Widyaningrum, terdapat beragam faktor yang melatarbelakangi. Dan di antara penyebab mayor adalah faktor pernikahan dini.
“Kabupaten Jepara sempat menjadi kabupaten darurat stunting. Ini bisa jadi disebabkan kurangnya edukasi pemerintah terhadap masyarakatnya atau masyarakat yang ngeyel untuk melangsungkan pernikahan di bawah umur,” papar Utari kepada Joglo Jateng, Selasa (11/4/23).
Duta Genre Jepara 2022 ini menambahkan, efek domino dari pernikahan dini adalah stunting. Sebab, pengetahuan yang minim dan finansial dikatakan belum stabil jadi pemicu hadirnya stunting.
“Kebanyakan penyebab stunting karena kurangnya edukasi gizi balita. Empat sehat lima sempurna mesti tercukupi. Untuk mencapai itu, dibutuhkan pengetahuan serta finansial yang cukup,” jelas Mahasiswi Unisnu Jepara itu.
Bagi dia, perolehan gizi tidak diharuskan dengan bahan makanan bertarif mahal. Melalui protein, muktivitamin sampai makanan berserat. Khususnya fase hamil.
Sewaktu mengandung bayi, menurut Utari (sapaan akrabnya) makanan dibagi kepada dua orang, yakni sang ibu dan bayi dalam kandungan. Hal itu, mesti diperhatikan asupan gizinya.
“Seringkali, ibu-ibu hamil tidak minum obat penambah darah. Padahal mereka rawan anemia. Pas lahir, itu butuh banyak. Inilah, jika tidak diimbangi dengan pengetahuan, berakibat fatal -stunting bayi,” imbuhnya.
Perempuan dengan akun Instagram @ut.wn menjelaskan, fenomena pernikahan dini berdampak pula terhadap tumbuh kembang anak. Karena, asupan gizi juga pengaruh dengan perkembangan otak.
“Ketika finansial tidak mencukupi, ekonomi tidak stabil, bisa saja usaha sang bapak oleng, akibatnya pada konsumsi sehari-hari sang bayi. Otak tidak berkembang, pengaruh dengan nalar pemahaman, jadinya IQ anak rendah, dan masih banyak lagi,” pungkasnya. (cr2/gih)










