PATI, Joglo Jateng – Kasus stunting di Kabupaten Pati masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pasalnya, kasus stunting di Pati hingga Juni 2023 jumlahnya masih mencapai ribuan.
Berdasarkan data elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) per Februari 2023, ada sebanyak 4.185 balita di Pati yang terindikasi stunting. Jumlah tersebut dari total 72 ribu balita di Pati.
Kasus stunting terbanyak di Kecamatan Margorejo dengan jumlah 464 balita yang terindikasi stunting atau 14,07 persen dari total 3.296 balita. Kemudian disusul Kecamatan Dukuhseti dengan jumlah 355 balita yang terindikasi stunting atau 12,70 persen dari total sebanyak 2.796 balita.
Jumlah itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati, Aviani Tritanti Venusia.
“Kasusnya agak sedikit naik. Dari 2022 yang 5,43 persen, pada 2023 naik menjadi 5,78 persen karena balita semakin banyak,” ungkap Aviani, sesuai acara rembuk stunting di Pendopo Pati, Selasa (27/6/2023).
Ditemui dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) Pati Muhtar menyampaikan, stunting diakibatkan oleh beberapa faktor. Salah satunya disebabkan pola asuh balita.
Mengingat, kata dia, banyak warga Pati yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia ataupun Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sehingga tidak bisa merawat buah hatinya sendiri.
“Pola asuh diakibatkan mungkin bapak ibunya sedang tugas, dalam daerah atau luar daerah maupun di luar negeri seperti TKI atau TKW. Sehingga balita dititipkan kepada mbahnya atau saudara. Sehingga kurang mendapat perhatian yang cukup,” terang dia.
Muhtar menyebut bahwa jumlah warga Pati yang bekerja diluar negeri terbilang banyak. Meksipun dirinya tidak bisa menyebutkan angka pastinya.
“Kita belum bisa menyebutkan data TKI. Tapi di Pati TKI memang banyak. Wilayah Utara ada, wilayah Selatan ada,” imbuhnya. (lut/fat)










