PW IKA PMII Jateng Ajak Siswa SMA Melek Demokrasi, Ini Dialog Pemilu dengan Pemilih Pemula di Karanganyar

Dialog Wawasan Kebangsaan dengan Tema membangun demokrasi dan persatuan untuk Pemilu 2024 di SMAN 1 Karanganyar
DISKUSI: Dialog Wawasan Kebangsaan dengan Tema membangun demokrasi dan persatuan untuk Pemilu 2024 di Karanganyar pada hari Sabtu (29/7/2023) yang digelar Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Jawa Tengah. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Jawa Tengah menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan dengan Tema membangun demokrasi dan persatuan untuk Pemilu 2024 di SMAN 1 Karanganyar pada hari Sabtu (29/7/2023).

Dalam kegiatan tersebut, PW IKA PMII Jateng mengundang narasumber di antaranya Anggota DPR RI Luluk Nur Hamidah, Ketua PW GP Ansor Jateng Solahuddin Ali, Akademisi UIN Walisongo Semarang Dr M Kholidul Adib, dan Komisioner Baznas Nur Fuad.

Luluk Nur Hamidah memaparkan bahwa demokrasi di Indonesia secara riil baru tercipta semenjak reformasi 1998 yang di sana, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) jadi salah satu motor penggeraknya.

“Pemuda adalah pemilik sah demokrasi, itulah yang harus kita yakini,” luluk di hadapan 300 peserta yang sebagian besar siswa SMA.

Luluk menjelaskan bersinambungnya pemilihan umum dengan banyak partai saat ini juga berkat pergerakan mahasiswa yang melahirkan reformasi.

“Dulu jaman orde baru cuma dibatasi tiga partai. Tapi sekarang parta jumlahnya bisa belasan. Bahkan Pemilu 1999 setelah reformasi sampai ada 40 partai. Sekarang mau bikin partai baru juga gampang. Itu berkat siapa? Ya berkat pemuda,” tandas Lulu.

Kemudian Nur Fuad menjawab sebuah pertanyaan dari siswa SMA berusia 17 tahun yang bertanya bagaimana dirinya memposisikan diri di lingkungan yang lebih dewasa darinya. Menurut Fuad, usia belia bukan alasan untuk diam dan memendam hasrat untuk menyampaikan pendapat.

“Jangan diam. Walaupun kamu usianya paling muda di antara yang lain, kamu harus percaya diri menuampaikan pendapat. Itulah demokrasi,” jelas Fuad yang memaparkan substansi demokrasi yang berupa kesetaraan dan kebebasan berpendapat.

Demikian juga dengan Sholahuddin, pimpinan Baznas Jateng ini menunjukkan sisi negatif sikap bungkam yang perlahan-lahan membunuh demokrasi.

“Yang pasti sikap diam itu akan mematikan demokrasi. Kalau kaliam diam ya lama kelamaan bangsa ini akam jadi bangsa pendiam dan mudah dijajah,” tuturnya.

Di akhir, Dr M Kholidul Adib menyampaikan penelitian disertasinya yang menyoroti Pemilu sepanjang sejarah Indonesia. Rata-rata konstituen muda atau masyarakat pemilih yang berusia muda tidak dinerikan opsi untuk terlibat dalam membangun ide di partai politik.

“Jadi cuma 17 persen anak muda yang terlibat aktif. Sisanya cuma mengikuti saja,” tandasnya. (hms/rds)