Oleh: Shohib, S.Pd.SD., M.Pd.
Kepala SDN Kebonbatur 1, Kec. Mranggen, Kab. Demak
SETIAP orang tua pasti ingin memiliki anak yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Begitu juga seorang guru, mempunyai keinginan yang sama. Seorang pendidik mengharapkan anak dapat memenuhi kebutuhannya dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain. Tetapi terkadang keinginan tersebut tidak berjalan mulus sesuai dengan keinginan.
Hal tersebut kadang diakibatkan oleh lingkungan dan pola asuh anak saat bersama keluarganya. Sifat memanjakan anak merupakan salah satu contoh perbuatan yang tidak mendukung proses penanaman tanggung jawab pada anak.
Tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa jenis keputusan yang bersifat moral. Tanggung jawab dapat ditanamkan dan diajarkan sejak anak usia dini.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penanaman tanggung jawab pada anak berpengaruh terhadap kegiatan belajar (prestasi) anak di sekolah. Berhasil tidaknya mereka di sekolah sangat ditentukan oleh cara mereka menanggapi batasan dan aturan, serta bagaimana mereka menerima tanggung jawab.
Pendidikan di Indonesia tidak hanya mengutamakan pada penguasaan akademiknya saja. Akan tetapi juga memiliki tujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3. Yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, diperlukan proses pendidikan yang memadai. Agar pendidikan dapat berjalan dengan baik, sebaiknya semua aspek yang mempengaruhi belajar peserta didik dapat berpengaruh positif. Sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, terdapat tiga ranah yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun pada kenyataannya, meskipun sekolah selalu mengupayakan menyeimbangkan ketiga ranah tersebut, ranah kognitif terlihat lebih dominan. Kemudian disusul dengan ranah psikomotorik.
Hal ini mengakibatkan peserta didik memiliki kemampuan hard skill yang lebih menonjol daripada kemampuan soft skill, karena ranah afektif yang sedikit terabaikan. Ranah afektif ini meliputi nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan pada diri setiap peserta didik. Sedangkan karakter berarti tabiat atau kepribadian seseorang.
Cara-cara yang dapat dilakukan para orang tua dan atau guru untuk menanamkan tanggung jawab dan disiplin tanpa membuat anak stres, tanpa hukuman, serta tanpa perlu pemberian hadiah, di antaranya adalah memberikan tugas kepada anak sesuai dengan usia. Kemudian membantu anak mengatur tugas-tugas sekolahnya.
Usahakan untuk selalu mengatakan dengan bahasa yang positif. Karena kesuksesan dan pujian akan memotivasi seorang anak untuk melakukan lebih banyak tugas dan lebih baik lagi. Lalu tawarkan pilihan. Karena dengan melatih anak memilih mereka semakin bertanggung jawab terhadap pilihannya itu. Jadilah pendengar yang baik, untuk cerita dan keluhan anak tanpa menginterupsi pendapatnya.
Implementasi pendidikan karakter khususnya nilai tanggung jawab sangatlah penting di antaranya salat berjamaah, berdoa ketika masuk sekolah, upacara, dan tugas lainnya. Pengimplementasian ini telah diupayakan ke dalam kegiatan-kegiatan yang diprogramkan oleh sekolah. Selain itu, guru juga berupaya mengintegrasikan nilai-nilai tanggung jawab ke dalam setiap mata pelajaran. (*)








