Gotong Royong Atasi Krisis Air Bersih

TUANG: Petugas BPBD Sleman saat mengisi penampungan air bersih milik warga di Kalurahan Banyurejo, Sleman, Senin (23/10). (ISTIMEWA/ JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Krisis air bersih di Kabupaten Sleman akibat dampak musim kemarau semakin meluas. Bantuan air bersih sejauh ini terus dikucurkan kepada masyarakat. Bahkan, beberapa organisasi juga telah menyalurkan bantuannya.

Satu di antaranya, Ikatan Dharma Wanita Kabupaten Sleman yang menyalurkan bantuan air bersih ke Dusun Tangisan, Banyurejo, Tempel, pada Senin (23/10). Bantuan tersebut, merupakan respon terhadap kekurangan air yang terjadi selama sebulan terakhir.

Ketua Ikatan Dharma Wanita Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya mengatakan, bantuan air bersih kali ini bertepatan dengan Hari Jadi Ikatan Dharma Wanita Kabupaten Sleman ke-24 di tahun 2023 ini. “Ikatan Dharma Wanita Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyerahkan bantuan berupa air bersih ke Dusun Tangisan sebanyak sepuluh tangki air bersih,” terangnya.

Sementara itu, Lurah Banyurejo, Saparjo mengatakan, lima padukuhan di wilayah Kalurahan Banyurejo mengalami kekeringan dampak perbaikan selokan mataram, van der wijck, dan kemarau panjang yang mengakibatkan sumur warga mengalami kekeringan. Akibatnya, hampir 500 jiwa di Kalurahan Banyurejo terdampak kekurangan air bersih. Droping air dilakukan setiap hari.

“BPBD Kabupaten Sleman dan BBWSSO telah memberikan rutin bantuan setiap hari sebanyak 30.000 liter air bersih untuk atasi kekeringan di Kalurahan Banyurejo,” ungkapnya.

PEDULI: Ikatan Darma Wanita Sleman menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kalurahan Banyurejo, Senin (23/10).

Perlu diketahui, setidaknya ada 15 Kalurahan yang mengalami kesulitan air dan sebagian besar telah meminta untuk dibantu droping air bersih ke BPBD Kabupaten Sleman. Berdasarkan, data yang dihimpun BPBD Sleman per 21 Oktober 2023 menunjukkan, wilayah terdampak krisis air bersih meliputi Kalurahan Banyurejo (497 jiwa), Sumberagung (12 jiwa), Sendangagung (1.821 jiwa), Sendangsari (993 jiwa), Margokaton (77 jiwa), Hargobinangun (1,949), Donoharjo Puskemas Ngaglik II dan Margorejo di Puskemas tempel 1.

Selain itu, krisis air juga dialami warga di Padukuhan jering, Sidorejo (82 jiwa), Sumbersari Moyudan dipasang 3 Hidran Umum (HU), Sukoharjo Ngaglik pendalaman sumur, Sendangrejo pemasangan 4 HU, di Margodadi Seyegan mengalami krisis dan ditangani dengan membeli mesin pompa air untuk Pamsimas. Begitu juga di Padukuhan Sejati, Sumberarum, Moyudan krisis air bersih ditangani dengan pembelian mesin pompa air dan dibantu selang air. Terbaru, permintaan dropping air juga datang dari Kalurahan Merdikorejo, Tempel.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan di Merdikorejo ada tujuh Padukuhan dan satu dusun yang mengalami krisis air bersih. Mereka telah mengajukan bantuan droping air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu disebabkan sumber mata air dan sumur di sebagian wilayah Padukuhan di Merdikorejo sudah pada kering.

“Sehingga Data sementara, ada 7.125 jiwa dari 2.155 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak di tujuh Kapanewon. Jumlah tersebut belum termasuk wilayah terdampak di Merdikorejo,” demikian jelasnya. (bam/all)