Oleh: Jaziroh, S.Pd.SD
Guru SDN Ambokulon, Kec. Comal, Kab. Pemalang
MENURUT Ki Hajar Dewantara, maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Tujuannya agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya.
Faktanya, murid-murid kita memiliki karakteristik yang beragam dengan keunikan, kekuatan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Begitu pula dengan murid kelas V SDN Ambokulon.
Sebelum mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, proses maupun hasil pembelajaran kurang optimal. Misalnya saja pada pembelajaran IPAS dengan KKTP 75, dari 29 murid kelas 5, hanya 17 murid yang nilainya di atas KKTP. Sementara 12 murid masih dibawah KKTP. Hal tersebut tentunya perlu direspon dengan tepat. Untuk itu, sebagai pendidik, saya harus mencari solusi agar hal tersebut tidak terjadi dalam kelas saya.
Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon karakteristik murid-murid yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14), dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.
Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus. Dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B, atau si C dalam waktu yang bersamaan.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan 1) kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. 2) Bagaimana guru merespon kebutuhan belajar muridnya. 3) Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar. 4) Manajemen kelas yang efektif, dan 5) penilaian berkelanjutan.
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat melihat kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan tiga aspek. Di antaranya kesiapan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid.
Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya. Guru dapat mengetahui kebutuhan belajar murid dengan berbagai cara. 1) Mencari tahu pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid. 2) Melakukan penilaian. 3) mendiskusikan kebutuhan murid dengan orang tua atau wali murid. 4) Mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas.
5) Mendiskusikan permasalahan dengan murid. 6) Membaca rapor murid kelas sebelumnyaa. 7) Berbicara dengan guru sebelumnya. 8) Membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan murid. 9) Menggunakan berbagai penilaian diagnostik. 10) Melakukan survei. 11) Mereview dan melakukan refleksi efektivitas pembelajaran.
Mendapatkan informasi tentang kebutuhan belajar murid, tidak selalu harus melibatkan sebuah kegiatan rumit. Guru bisa memperhatikan hasil penilaian formatif, perilaku murid, refleksi murid, mendengarkan dengan baik murid-muridnya, dan membuat catatan tentang profil murid. Itu semua akan sangat membantu guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan muridnya.
Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, maka murid berkembang potensinya secara maksimal. Proses pembelajaran memberikan ruang bagi murid untuk menentukan pilihan serta menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, hasil belajar bisa optimal dan bermakna. Sehingga murid kita sebagai manusia dan anggota masayarakat dapat bahagia dan mencapai keselamatan setinggi-tingginya. (*)








