Budaya  

Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat

LESTARIKAN BUDAYA: Ketua Pepadi Kabupaten Jepara, Ki Hendro Suryo Kartiko tengah memainkan wayang dalam suatu pertunjukan. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KETUA Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Jepara, Ki Hendro Suryo Kartiko berharap agar masyarakat tetap memegang tradisi. Pasalnya, seiring dengan pergeseran zaman, warisan ini mulai ditinggalkan.

Pendiri Padepokan Marga Langit itu mencontohkan, seperti nama. Sekarang, nama jawa mulai ditinggalkan masyarakat. Alasannya, dinilai tidak modern sebagaimana nama Arab dan Barat.

Kebo kenongo (berkekuatan besar dan harum, Red.), ekrak tebok (wadah atau pembersih yang baik, Red.), budaya penamaan seperti itu mulai ditinggalkan,” papar Ki Hendro kepada Joglo Jateng, belum lama ini.

Kalau sekarang, lanjutnya, masyarakat tertarik dengan nama kebarat-baratan dan kearab-araban. Baik Reno, Alvaro, Faqih atau sejenisnya bakal akibatkan identitas dari tradisi kejawen kian terkikis, sedikit demi sedikit.

Tidak hanya itu, pemakaian bahasa Jawa juga jadi korban. Menurutnya, anak-anak dari generasi Z jarang ditemukan menggunakan bahasa Jawa. Mereka lebih dominan dan akrab dengan bahasa Indonesia.

“Ironi juga, hidup di Pulau Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa. Khususnya bahasa kromo, kromo alus bahkan kromo inggil. Anak-anak era sekarang perlu dididik supaya mengerti unggah ungguh atas kelebihan bahasa Jawa itu tadi,” terangnya.

Bagi dia, Jawa memiliki karakter dan nilai yang tinggi. Contohnya dari bahasa yang digunakan untuk orang yang lebih muda, tua, teman, dan lain-lain memiliki porsinya masing-masing. Berbeda dengan bahasa Inggris dan Arab, yang tidak mengandung unsur seperti Jawa.

Supaya dapat merealisasikan, menurutnya dapat dimulai dari diri sendiri. Jika dalam rumah tangga, diawali oleh orang tua. Budaya, kearifan lokal, seni budaya dijaga agar tidak tergerus oleh adat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kejawen.

“Jika tidak mampu, minimal asimilasi. Tapi gelem mangan ngombe ing bumi Jowo, tapi ga gelem boso Jowo kok bagaimana gitu. Tradisi diuri-uri, Jowo digowo, barat diruwat, dan Arab digarap,” pungkasnya. (map/adf)