Jepara  

Musim Hujan, Harga Garam Mulai Naik

MENATA: Petani garam Kedungmalang sedang mengolah garam di gudang, Jepara. Minggu (04/02/24). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Petani garam di Kedungmalang, Kabupaten Jepara menyatakan saat ini adalah puncak musim panen. Hal itu, dirasakan lantaran mereka mulai menikmati kembali kenaikan harga garam yang semulanya Rp 1.100 kini menjadi Rp 1.500 per kilogram. Salah satu penyebab kenaikan harga karena telah memasuki musim hujan.

Ketua Kelompok Tani Garam Desa Kedungmalang, Kabupaten Jepara, Syuhada mengungkapkan, harga garam memang tergantung pada musim. Apabila musim hujan, maka harga akan naik dengan sendirinya. Begitu juga ketika musim kemarau, produksi garam meningkat dan harga jelas turun.

Syuhada juga mengatakan, musim hujan menjadi kesempatan dalam meraup keuntungan. Pasalnya, dua tahun belakangan ini petani garam Kedungmalang merasakan pahitnya gagal panen akibat cuaca buruk.

“Kalau hujan malah naik, produksi lebih banyak. Ini memang momen bagi petani garam dalam mengambil keuntungan. Sebab kemarin juga ada paceklik, jadi petani garam lumpuh total. Alhamdulillah sekarang menjadi baik,” ungkap Syuhada.

Sementara itu, lanjut dia, ketika musim hujan sejumlah petani mulai menyiasati dengan memilih menyimpan garam di gudang. Sehingga, ia merasa tidak khawatir, sebab petani memiliki setok melimpah.

Hasil produksi garam juga disetor ke berbagai wilayah. Diantaranya Solo, Semarang, Jakarta, Medan, Lampung sampai Kalimantan. Dengan adanya penjualan meningkat, petani garam Kedungmalang merasa sangat ter tunjang atas perekonomiannya.

“Salah satu mata pencaharian warga Kedungmalang adalah petani garam. Dengan produksi yang melimpah menjadi penunjang perekonomian kami,” tambah Syuhada.

Ia juga menambahkan, ketika musim panen tiba, produksi garam hampir mencapai 1.200 ton per bulan. Jumlah tersebut belum terhitung sawah lain yang digarap oleh karyawannya.

Pihaknya berharap pemerintah mampu mempertahankan stabilitas harga garam. Baik ketika musim hujan maupun musim panas. Sehingga petani tidak merasa rugi dengan usaha yang ia keluarkan.

“Jangan sampai keluar dari harga Rp 1.000, kami rugi. Sebab tidak sesuai dengan usaha yang dikeluarkan,” pungkas Syuhada. (cr4/fat)