Hama Fusarium Jadi Penyebab Harga Cabai Naik

MELAPAK: Para pedagang di Bumi Sembada saat menunggu dagangan cabainya di kedainya, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Selain beras, harga komoditas cabai di Kabupaten Sleman juga merangkak naik. Berdasarkan pantauan sistem harga pangan (siharpa) Sleman, harga rata-rata cabai merah besar sudah di angka Rp79.714 per kilogram dengan harga tertingginya menyentuh Rp85.000 per kilogram.

Adapun untuk cabai keriting rata-rata di harga Rp 67.375 per kilogram dan cabai rawit merah di harga Rp 58.500 per kilogram. Kenaikan harga cabai ini diduga disebabkan oleh serangan hama fusarium yang menyebabkan banyak tanaman cabai layu dan mati.

Selamat Idulfitri 2024

Kepala Bidang Holtikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Immawan Nur Syaifudin mengungkapkan, kenaikan cabai juga disebabkan karena banyak petani yang beralih tanaman. Hal itulah yang menyebabkan pasokan di pasar berkurang.

Baca juga:  5 Mahasiswa UMY Berhasil Tembus Program IISMA 2024

“Tingginya harga cabai ini akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung. Faktor cuaca panas hujan mempercepat perkembangan jamur fusarium. Kalau sudah terserang jamur, hanya butuh waktu tiga hari tanaman mati, sehingga banyak yang gagal panen,” katanya,  Minggu (3/3/24).

Saat ini, pihaknya mengupayakan pengendalian serangan hama tersebut dengan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para petani. Hal itu untuk meningkatkan kemampuan para petani dibidang bercocok tanam.

Selain karena serangan hama, faktor lain yang turut mempengaruhi kenaikan harga cabai, terutama jenis cabai merah dan cabai keriting adalah banyak petani di Sleman yang beralih tanaman. Dari yang semula menanam cabai merah menjadi cabai rawit.

Baca juga:  Operasional TPST Tamanmartani belum Maksimal

Saat ini, jumlah petani yang menanam cabai rawit disebut lebih banyak, sehingga harganya tidak semahal cabai merah. Kondisi tersebut tidak lepas dari pengalaman tahun lalu, di mana rawit merah lebih unggul dan menjadi primadona karena harganya melonjak tinggi.

Berkurangnya petani yang menanam cabai merah dan keriting, membuat pasokan di pasar berkurang, dan mengakibatkan harganya terkerek naik. Pasalnya, hargai cabai keriting dan merah ini harganya sama-sama tinggi.

“Kondisi saat ini di semua pasar lelang pasokan berkurang. Jika tahun lalu biasanya 2-3 ton per hari. Sekarang maksimal hanya 2 ton, bahkan bisa kurang dari itu,” ungkapnya.

Baca juga:  SMP 2 Jetis Gelar Acara Pesantren Kilat Tema Adab Berpuasa

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Perdagangan, Disperindag Sleman Kurnia Astuti membenarkan jika tingginya harga cabai di Bumi Sembada karena faktor pasokan produksi di tingkat petani belakangan ini berkurang. Hal ini karena petani kesulitan menaman cabai di tengah cuaca yang tidak menentu. (bam/abd)