Nyalon Ketua PWNU Jateng, Kiai Rofiq Siapkan 5 Program Prioritas

Kiai Rofiq Mahfudz. (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Menghadapi tantangan perkembangan zaman yang luar biasa, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng harus bisa merumuskan program-program yang bisa mengakomodir tantangan tersebut. Tentu tanpa melupakan tradisi baik yang telah berjalan selama ini.

Hal tersebut disampaikan calon Ketua PWNU Jateng Kiai Rofiq Mahfudz menjelang Konferwil PWNU, Senin (4/3). Oleh sebab itu, sebelum maju sebagai calon Ketua PWNU, dia menyiapkan lima program prioritas.

Pertama, menciptakan tata kelola dan akuntabilitas organisasi. Baginya sudah seharusnya PWNU dikelola secara profesional dan akuntabel.

“Misal, bagaimana PWNU membangun sistem manajemen perkantoran yang lebih mudah dan aman serta transparan. Setidaknya PWNU ke depan memiliki tata kelola manajemen organisasi berbasis digital,” terangnya.

Kedua, membangun ajaran Aswaja An Nahdliyah. Bagi Kiai Rofiq, wacana dan pandangan Islam Aswaja An Nahdliyah harus dihadirkan dalam praktik masyarakat sebagai wawasan kontekstual.

“Seperti mengurangi angka pengangguran, memberantas kemiskinan, advokasi hak rakyat yang digusur, merawat lingkungan dan tanaman, dan lainnya,” ucap Kiai Rofiq.

Ketiga, memperkuat sumber daya manusia di sektor strategis. Menurutnya, NU harus menjawab tantangan dengan menyiapkan SDM sebagai aset bernilai tak berwujud dan menyiapkan kader-kadernya dengan menempa mereka di berbagai lembaga pendidikan.

Keempat, menyiapkan pendidikan NU berkualitas dan bermutu. Menurut Kiai Rofiq, ke depan NU menghadapi perkembangan dan pergolakan zaman yang bergerak begitu cepat.

“Untuk itulah NU perlu mengembangkan lembaga pendidikan yang dapat menjadi alternatif dalam menghadapi perkembangan tersebut. Agar amal saleh yang dilakukan dapat bermanfaat secara luas,” tuturnya.

Kelima, menciptakan kemandirian ekonomi melalui badan usaha milik NU. Memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi NU khususnya di Jateng semakin kompleks. Tidak hanya persoalan keagamaan tapi juga persoalan lain, termasuk ekonomi.

“Karena itu, penguatan ekonomi untuk warga Nahdliyyin sangat penting. Jangan sampai karena ekonomi akidah bisa goyah,” tandasnya. (hms/rds)