Angka Pernikahan di Semarang Cenderung Menurun

SUASANA: Tampak depan KUA Kecamatan Semarang Barat. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang menyebut angka pernikahan di Ibu Kota Jawa Tengah cenderung menurun. Pada tahun 2022 jumlah pasangan calon pengantin kurang lebih 9.500-an pasangan. Kemudian pada Januari 2023 – Desember 2023 mencapai 9.253 pasangan.

Kepala Kemenag Kota Semarang, Ahmad Farid mengukapkan, fenomena ini sulit untuk diukur dari waktu ke waktu. Di era sekarang, orang cenderung memutuskan untuk menikah di usia matang atau ideal yakni sekitar umur 30 dan 25 tahun.

Selamat Idulfitri 2024

“Saya melihat kesadaran masyarakat sudah menuju ke usia pernikahan yang ideal,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Yayasan Sam Poo Kong Gelar Tebus Beras Murah, Wujud Toleransi dan Kepedulian di Bulan Ramadan

Sebagai informasi, usia yang paling banyak menikah di Kota Semarang sepanjang tahun 2023, yakni laki-laki diatas umur 21 tahun sebanyak 8.628 jiwa. Sedangkan, perempuan di atas 21 tahun sebanyak 7.884 jiwa.

Kemudian, usia yang paling sedikit cenderung di bawah 19 tahun. Dengan rincian laki-laki total 43 jiwa dan perempuan sebanyak 145 jiwa.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, zaman dulu menurut UU Perkawinan, masyarakat bisa menikah di minimal usia 16 tahun untuk perempuan. Kemudian untuk laki-laki usia 19 tahun.

“Kalau zaman sekarang laki–laki dan perempuan itu sama 19 tahun,” imbuhnya.

Baca juga:  Wali Kota Semarang Minta Penanganan Longsor di Sendangmulyo Dilakukan Secara Komprehensif

Di sisi lain, ia menyampaikan, paling banyak pendidikan terakhir yang menikah lebih dominan yaitu lulusan SLTA dengan rincian laki-laki sebanyak 5.028 jiwa, dan perempuan 4724 jiwa. Dilanjut, lulusan S1 hingga S3, antara lain laki-laki 1.822 jiwa dan perempuan 2.164 jiwa.

“Saya pikir anak-anak sekarang setelah lulus SLTA keberhasilan itu berpengaruh penting. SLTA itu 18 tahun sementara UU perkawinan itu membatasi minimal laki-laki dan perempuan itu 19 tahun,” ungkapnya.

Hal ini dilihat, kata Ahmad, dari banyaknya pengajuan dispensasi nikah yang sering dilakukan. Dikarenakan usianya kurang, sehingga pasangan calon pengantin harus mendapatkan perizinan dari pengadilan agama. Kecuali ada kejadian hamil diluar nikah yang mengharuskan pasangan untuk menikah lebih cepat.

Baca juga:  17 Perusahaan dalam Pengawasan, Harus Bayar THR 3 April

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kota Semarang, Sumari menyampaikan rata-rata orang yang menikah memiliki pola pikir untuk mapan secara finansial terlebih dahulu. Sebelum nantinya mempersiapkan rumah tangga atau pernikahan.

“Kalau orang nikah itu kebanyakan yang sudah dewasa dan terpelajar dengan pendidikan yang cukup sehingga dia cenderung sudah mempersiapkannya dengan matang. Jadi tidak kesusu menikah,” pungkasnya. (int/adf)