Jelang Idulfitri, Satpol PP dan Dinsos Kota Semarang Tertibkan PGOT

AKTIVITAS: Sejumlah petugas dari Tim TRC Dinsos Kota Semarang dan Satpol PP saat menertibkan PGOT di Bundaran Simpang Lima Semarang, Rabu (3/4/24). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Menjelang Idulfitri, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang bekerja sama dengan Dinas Sosis (Dinsos) Kota Semarang telah menertibkan lima orang gelandangan dan pengemis serta orang terlantar (PGOT) di sejumlah titik jalan. Antara lain Simpang Lima, Kampung Kali, dan Jalan Ahmad Yani.

Menurut pantauan Joglo Jateng, satu orang PGOT sempat melarikan diri menuju ke arah Masjid Baiturahman saat hendak ditangkap oleh petugas di Bundaran Simpang Lima. Kemudian, tak berselang lama akhirnya orang tersebut berhasil ditertibkan dan dibawa masuk ke mobil keamanan milik Satpol PP.

Selamat Idulfitri 2024

Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Semarang, Kiss Miarso mengukapkan, operasi PGOT ini rutin dilakukan menjelang hari besar nasional. Dalam hal ini, pihaknya menindaklanjuti Peraturan Daerah (Perda) No 5 Tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan (Anjal), Gelandangan, dan Pengemis di Kota Semarang.

Baca juga:  Ram Check, 10 Persen Angkutan belum Penuhi Syarat

“Untuk menertibkan PGOT di Kota Semarang kita selalu operasi PGOT karena di kota-kota besar menjelang lebaran itu selalu banyak PGOT. Hari ini kami mendapat lima. Dan ternyata dari luar Kota Semarang. Kita data dulu nanti kita tampung ke (panti sosial di, Red.) Ngaliyan. Yang ngurusin Dinas Sosial,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Rabu (3/4/24).

Lebih lanjut, ia menerangkan, ada beberapa titik lokasi yang sering dilintasi PGOT. Di antaranya Kawasan Kota Lama, Kampung Kali, depan Lawang Sewu, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, Sub Koordinator Pemberian Layanan Bimbingan Penyandang Masyarakat Kesejahteraan Sosial (PMKS) Dinsos Kota Semarang, Tri Redjeki menyampaikan, menurut asesmen, mayoritas dari lima orang yang ditemukan merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Namun ketika ditanya soal asal daerah, sebagian dari mereka masih bisa menyebutkannya.

Baca juga:  45 Rumah di Semarang Rusak akibat Bencana

“Ada yang mudeng ditanya meskipun dia gak bawa KTP tapi alamat, RT RW dan asli warga mana dia tahu. Nanti biar PSM (Pekerja Sosial Masyarakat, Red.) yang menjemput dan dibalikan ke keluarganya,” kata dia.

Namun, jika ada yang ketika ditanya ia tidak paham, kata Tri, maka pihaknya akan memasukkan PGOT itu ke Shelter Among Jiwo untuk di asesmen menggunakan finger print. Kemudian akan ditelusuri identitas mereka.

“Kalau memang dia warga Kota Semarang kita carikan keluarganya. Tapi kalau dia asli luar kota kita hubungi dinsos daerah tersebut nanti biar dipulangkan mereka,” ungkap Tri.

Baca juga:  Dinkes Kota Semarang: 13 Titik Posko Kesehatan Beroperasi selama Masa Mudik

Selain mengamankan ODGJ, lanjut dia, pihaknya juga kerap melakukan operasi PGOT bersama Satpol PP. Sebab, masih ditemukan PGOT yang selalu meminta uang kepada pengendara.

“Jalan arus mudik banyak banget (PGOT) dan itu menganggu juga. Kadang tadi ada yang tidur di tengah jalan kan tidak bagus,” paparnya.

Dirinya mengimbau kepada pemudik, jika menemukan pengemis di jalan untuk tidak memberikan uang kepada pengemis. Aturan ini sudah dijelaskan dalam Perda 5 Tahun 2014 Tentang Penanganan Anak Jalanan, Gelandangan dan Pengemis di Kota Semarang. (int/adf)