DP3APPKB Ajak Organisasi Perempuan Bantul Dampingi AMPK

PAPARAN: Pemateri sosialisasi pendampingan AMPK saat menjelaskan materi di Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul, Kamis (30/5/24). (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Bantul menggelar sosialisasi pendampingan “Anak Yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) di Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul, Kamis (30/5/24). Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepedulian untuk mendampingi AMPK.

Perwakilan dari 33 kelompok atau organisasi yang sebagian besar organisasi wanita di Kabupaten Bantul turut dihadirkan dalam sosialisasi ini. Di antaranya Muslimat NU, Aisyah Muhammadiyah, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan beberapa organisasi lainnya.

“Hari ini kami melakukan sosialisasi untuk anak yang memerlukan perlindungan khusus yang terdiri dari 15 kategori,” ujar Kepala DP3APPKB Bantul Ninik Istitarini, Kamis (30/5/24).

Adapun, golongan anak yang termasuk dalam 15 kategori, yaitu di antaranya anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, anak yang menjadi korban pornografi, anak korban kejahatan seksual, anak korban kekerasan fisik, dan lain sebagainya. “Jadi AMPK ini kategori anak-anak dalam ‘keadaan yang mendekati bahaya’. Sehingga kami harus bermitra untuk melakukan pendampingan,” ujarnya.

Baca juga:  MTsN 1 Bantul Dukung Kreasi Siswa lewat Gelar Karya

Ninik berharap, organisasi-organisasi yang hadir bisa turut serta menyosialisasikan program ini dalam kegiatan mereka. Baik itu dalam hal untuk melakukan pencegahan, maupun proses pendampingan jika ada kasus tertentu. “Yang kami harapkan dari berbagai organisasi ini ikut sosialisasi. Jadi program itu bisa mereka adopsi,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga mengatakan, ketika terjadi kasus, organisasi ini bisa juga melakukan pendampingan langsung kepada korban. “Artinya, ibu-ibu juga bisa turut aktif mendampingi. Tidak harus semuanya dilaporkan ke kami,” imbuhnya.

BERJEJER: Kepala Dinas DP3APPKB (kiri), pemateri, dan peserta sosialisasi AMPK berfoto bersama usai sosialisasi pendampingan AMPK di Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul, Kamis (30/5/24). (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

Dijelaskan bahwa dari 15 kategori AMPK ini, setidaknya ada dua kategori yang paling rentan terjadi di Bantul. Yakni anak yang menjadi korban kekerasan seksual dan anak yang jadi korban kekerasan fisik.

Baca juga:  Lustrum Ke-8 ISI Yogyakarta Diwarnai Pameran Seni Rupa, Fashion Show dan Workshop Kreatif

Anak yang menjadi korban, dalam hal ini sering kali mengalami trauma yang perlu penanganan sesegera mungkin. Untuk itu, dengan berbagai organisasi ini, pihaknya berharap bisa menumbuhkan semangat kepedulian di lingkungan masing-masing.

“Yang kita harapkan dari berbagai organisasi ini peduli pada lingkungannya, jika ada korban-korban bisa melaporkan ke kami. Data pelapornya terlindungi, tidak akan kita sampaikan ke siapa pun. Itu sudah menjadi kode etik kami,” tuturnya.

Sosialisasi pendampingan AMPK digelar sebagai salah satu upaya DP3APPKB Bantul untuk membantu Projo Tamansari memperoleh predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) Paripurna pada tahun ini. Sebab pada 2023, Bantul mendapat predikat KLA Utama dengan nilai 888,81.

Baca juga:  KPU Kota Yogyakarta Lantik 205 Petugas Pemilu, Petugas Pantarlih Segera Dibentuk

“Sesuai Konvensi Hak Anak, ada lima kluster ‘hak anak’. Pertama adalah hak sipil dan kebebasan. Kedua yaitu lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Ketiga disabilitas, kesehatan dasar, dan kesejahteraan. Keempat pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya. Terakhir perlindungan khusus yang di dalamnya terdapat 15 jenis AMPK. Oleh karenanya, kami mengadakan sosialisasi ini sebagai langkah untuk mendukung terwujudnya KLA Paripurna,” tandasnya. (nik/abd)