Caturharjo Jadi Satu-satunya Kalurahan Mandiri Pengolah Sampah di Bantul

BERTUMPUK: Terlihat tumpukan sampah pilah di RKS Gluntung Kidul, Caturharjo, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Kalurahan Caturharjo jadi satu-satunya kalurahan di Kabupaten Bantul yang telah mendapatkan SK Bupati sebagai kalurahan mandiri olah sampah. Bukan tanpa sebab, hal itu karena Caturharjo sejak dua tahun lalu telah gencar melakukan pemilihan sampah.

Sampah anorganik hasil pilah itu kemudian dijual kembali dan hasilnya dibelikan sembako untuk parkir miskin. Sementara itu, sampah residu sisa pilah dimusnahkan dengan cara dibakar. Sedangkan untuk sampah organik diatasi dengan metode jogangan atau lubang tempat pengolahan.

Lurah Caturharjo Wasdiyanto menyampaikan, salah satu jenis sampah yang saat ini sedang gencar mereka tangani yaitu sampah organik. Pihaknya pun telah melakukan gerakan 5.000 jogangan untuk menjalan pengelolaan sampah organik ini.

Baca juga:  WALHI Yogyakarta Buka Layanan Aduan Lingkungan Hidup

“Gerakan 5.000 jogangan itu awalnya kita merespons instruksi Bupati untuk mewujudkan Bantul ‘bersih sampah’ (Bersama ) 2025. Sebenarnya gerakan ini sudah kita mulai sejak tahun 2022 lalu, mengingat ada informasi bahwa pada tahun 2024 Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Piyungan akan ditutup. Dan sekarang hal itu terbukti,” ungkapnya, belum lama ini.

Wasdiyanto juga mengatakan, pembuatan jogangan ini didukung dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal) berupa konsumsi untuk warga yang turut serta dalam gotong royong. Adapun pemilihan solusi penanganan sampah organik dengan metode jogangan ini dikarenakan, hal itu sudah menjadi metode yang diwariskan sejak nenek moyang.

Baca juga:  DPRD Sleman Dorong Pemkab Jalankan Pembangunan dengan Baik

“Karena untuk sampah organik di pedesaan, solusi yang paling bagus itu olah sampah dengan metode dari nenek moyang, jogangan itu. Karena dari Mbah itu sampah alam kembali ke alam, sampah pabrik kembali ke pabrik. Cuman kuncinya pemilahan di tingkat rumah tangga, sehingga residunya tinggal sedikit,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, 70 persen sampah di Bantul itu berupa sampah organik. Sehingga, setelah sampah organik yang 70 persen ini teratasi, sampah anorganik sisanya menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.

“Kalau kita bisa menangani yang 70 persen, 30 persennya gampang. Yang 30 persen ini itu ada dua, pertama sampah laku jual, kedua sampah residu. Yang laku jual itu dibeli BUMKal melalui ‘Rumah Kumpul Sampah’ (RKS) yang ada di masing-masing padukuhan,” lanjutnya.

Baca juga:  Bupati Bantul Tegaskan ASN untuk Jaga Integritas

Lebih lanjut, sampah-sampah residu ini kemudian dikelola melalui mekanisme pembakaran menggunakan alat khusus. Dari itu, sampah residu yang dihasilkan pun berhasil diatasi dan tidak menjadi sumber masalah baru bagi lingkungan.

“Sampah residu itu kita selesaikan di laboratorium pengolahan sampah di Padukuhan Kuroboyo. Sampah itu kita bakar dengan alat khusus yang tidak menimbulkan pencemaran, minim asap,” pungkasnya. (nik/abd)